


CATHOLIC DOCTRINE
I. CATHOLIC DOCTRINE
PENGADILAN TERAKHIR
Kitab terakhir dalam Kitab Suci - Kitab Wahyu - bab 20 menggambarkan suatu penglihatan tentang akhir zaman: “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.”
Yesus juga berbicara tentang penghakiman dalam Matius 25: 31-32 dan mengatakan bahwa Ia akan menjadi hakim. Oleh sebab itu, sebagian besar orang percaya bahwa akan ada semacam Pengadilan Terakhir bagi semua orang di suatu waktu di masa mendatang. Apa itu artinya dalam bahasa modern?
Kita perlu ingat bahwa Yesus harus menjelaskan segala sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang dapat dimengerti oleh orang banyak pada masa itu. Mereka belum mengenal dimensi-dimensi yang lain atau tentang hidup sebagai suatu bentuk energi atau hal-hal lain yang ditemukan ilmu pengetahuan pada abad ke-21.
Pada masa sekarang, kita dapat mengatakan bahwa masing-masing dari kita adalah suatu bentuk energi kehidupan yang terkurung dalam wadah jasmani, yaitu tubuh kita. Ketika kita meninggal, energi ini terpisah dari wadahnya dan wadahnya hancur. Itulah yang terjadi dengan kematian jasmani.
Tetapi, energi kita tetap ada, yaitu daya hidup jiwa kita. Tanpa wadah jasmani atau tubuh, jiwa kita membutuhkan suatu sistem pendukung baru agar dapat tetap hidup. Sistem pendukung tersebut disediakan oleh Tuhan. Kita harus menjalin hubungan atau mempersatukan diri dengan-Nya agar tetap hidup. Kita belajar membangun hubungan serupa dengan sesama kita di dunia. Jika kamu tidak dapat membangun hubungan serupa di dunia, kamu akan gagal dalam “pengadilan” dan mati. Masa depanmu tergantung pada kemampuanmu untuk mencinta.
APA ITU SURGA?
Paus Yohanes Paulus II mengatakan kepada kita bahwa seharusnya kita tidak menganggap surga sebagai suatu “tempat”. Bukan maksud Bapa Suci mengatakan bahwa surga itu tidak ada, tetapi ia bermaksud untuk mengatakan bahwa surga bukanlah suatu tempat fisik seperti anggapan banyak orang.
Cara yang lebih baik untuk menggambarkan surga adalah ia itu seseorang. Seseorang itu adalah Bapa. Tuhan mengundang kita untuk berada bersama-Nya dalam kebahagiaan abadi.
Pernahkah kamu memperhatikan bahwa jika kamu sedang bersama dengan seseorang yang mencintaimu dan yang kamu cintai, tidak jadi masalah kalian berada di mana? Kebersamaan itu sendiri adalah sesuatu yang indah serta menyenangkan.
Bukan dinding serta dekorasinya yang membuat suatu bangungan menjadi rumah. Istana yang paling indah pun dapat menjadi “neraka” jika mereka yang tinggal di dalamnya saling membenci. Suatu bilik sederhana dapat menjadi “surga” jika mereka yang tinggal di dalamnya saling mengasihi.
Daripada bertanya seperti apakah surga itu, sebaiknya kita bertanya seperti apakah Tuhan itu? Tuhan adalah Bapa yang Pengasih, seorang Sahabat, seorang yang Sangat Mengasihimu sebagai suatu pribadi. Tuhan akan melakukan apa saja agar kita aman dan bahagia.
Secara sederhana, Tuhan adalah pribadi yang paling keren. Memang bukan suatu istilah yang tepat, tetapi Allah itu sungguh amat
APA ITU API PENYUCIAN?
Dalam salah satu audiensinya Bapa Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa api penyucian adalah keadaan yang kita alami setelah kita meninggal di mana kita dibersihkan dari segala noda dosa sebelum akhirnya diperkenankan masuk ke dalam surga. Bapa Suci menambahkan bahwa setiap orang yang hidupnya belum sempurna tetapi diperkenankan masuk ke surga harus terlebih dahulu tinggal dalam api penyucian. "Sebelum kita masuk dalam Kerajaan Allah, setiap noda dosa dalam diri kita harus dibersihkan, setiap cacat dalam jiwa kita harus disempurnakan. Itulah sesungguhnya yang terjadi di api penyucian,” kata Bapa Suci.
Paus melanjutkan bahwa api penyucian juga bukan merupakan suatu tempat, "Api penyucian tidak menunjuk pada suatu tempat, melainkan suatu kondisi kehidupan. Mereka yang, setelah meninggal, tinggal dalam keadaan penyucian telah dibenamkan dalam kasih Kristus, yang akan mengangkat mereka dari sisa-sisa ketidaksempurnaan."
Kemudian Paus mendorong umat Kristen untuk berdoa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi jiwa-jiwa di api penyucian.
MENGAPA KITA MEMERLUKAN API PENYUCIAN? Saudara-saudari kita kaum Protestan bersikeras bahwa hanya ada dua pilihan setelah kita meninggal dunia, yaitu: Surga atau Neraka. Sementara umat Katolik percaya bahwa ada pilihan lain sesudah kita meninggal, pilihan yang membuat kita amat bersyukur yaitu: Api Penyucian. Akan sangat mengerikan sekali jika kita hanya dihadapkan pada dua pilihan saja: Surga dan Neraka, sebab jarang sekali ada orang yang demikian kudus hidupnya sehingga dapat langsung masuk ke surga. Oleh karena Belas Kasihan Allah kepada umat manusia maka kita diberi kesempatan untuk memurnikan diri sebelum masuk ke surga yaitu melalui api penyucian.
Untuk mempermudah pemahaman kita, mari kita menggunakan suatu perumpamaan. Coba bayangkan: kalian diundang untuk menghadiri suatu pesta yang agung. Setiap orang yang hadir mengenakan pakaian serta gaun mereka yang terindah, rambut mereka tertata rapi, dan tubuh mereka bersih serta harum. Tuan rumah membuka pintu dan mempersilakan kalian masuk. Tetapi kalian berdiri di depan pintu dengan pakaian gembel yang bau, rambut kalian acak-acakan, tubuh kalian dekil dan perlu dibersihkan. Apakah kalian akan masuk ke dalam ruang pesta?
Jika kalian bersikeras bahwa api penyucian itu tidak ada, saya akan bertanya: Apa yang membuat kalian yakin bahwa kalian benar-benar bersih dan tanpa noda dosa pada saat kalian meninggal dan dihadapkan ke pengadilan akhir? Bukankah kita semua orang berdosa, yang setiap hari terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil yang hanya tampak oleh Allah saja? Oleh karena itu bersukacitalah atas api penyucian di mana kita dapat membersihkan diri kita dari segala dosa sebelum memasuki kemuliaan surgawi yang abadi!
Api Penyucian memang secara spiritual amat menyakitkan sebab jiwa-jiwa yang tinggal di sana sangat ingin berada bersama dengan Allah, tetapi tidak bisa. Pada saat yang sama dalam api penyucian ada sukacita besar sebab jiwa-jiwa yang tinggal di sana percaya bahwa setelah masa tinggal mereka di api penyucian berakhir, maka mereka pasti diperkenankan masuk ke dalam surga.
sumber : For the Love of the Poor Holy Souls in Purgatory; www.poorsouls.net
BAGAIMANA KITA BERDOA BAGI MEREKA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA? Hal paling ampuh yang dapat kita lakukan ialah mengadakan Misa untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian, atau mohon intensi misa (intensi misa = ujub Misa yang terkadang diminta oleh umat) bagi jiwa seseorang yang telah meninggal dunia. Devosi lain yang amat bermanfaat ialah Doa Rosario dan Jalan Salib demi jiwa-jiwa menderita tersebut. Kita juga dapat melakukan matiraga. Semua matiraga kita, bahkan matiraga yang terkecil sekali pun, kita persatukan dengan penderitaan Yesus dan kita persembahkan ke dalam tangan kasih Bunda Maria demi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian. Indulgensi (indulgensi = pengampunan/ penghapusan hukuman dosa di api penyucian) juga berlaku bagi mereka yang telah meninggal dunia. Jadi ingatlah untuk senantiasa berdoa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi jiwa-jiwa tersebut.
Sebuah buletin berjudul “The Holy Souls Will Repay Us a Thousand Times Over"(Jiwa-jiwa Akan Membalas Kita Seribu Kali Lipat), mengatakan, “Ketika pada akhirnya jiwa-jiwa di api penyucian telah terbebas dari penderitaan mereka dan menikmati sukacita surgawi, mereka tidak akan melupakan saudara-saudarinya yang masih ada di dunia. Ungkapan rasa terima kasih mereka tidak mengenal batas. Sujud menyembah di hadapan Tahta Allah, mereka tak henti-hentinya berdoa bagi saudara-saudarinya yang telah mendoakannya. Dengan doa-doanya, jiwa-jiwa itu melindungi saudara-saudarinya dari mara bahaya serta dari segala kejahatan yang mengancam. Dan kelak, ketika saudara-saudarinya itu tiba di api penyucian, jiwa-jiwa itu akan mendoakan mereka sehingga masa tinggal mereka di api penyucian dapat dipercepat dan diperingan atau bahkan mereka dapat memperoleh pengampunan SEUTUHNYA.” (Imprimatur: Herbert Cardinal Vaughan).
Purgatory (Lat., "purgare", to make clean, to purify) in accordance with Catholic teaching is a place or condition of temporal punishment for those who, departing this life in God's grace, are, not entirely free from venial faults, or have not fully paid the satisfaction due to their transgressions.
The faith of the Church concerning purgatory is clearly expressed in the Decree of Union drawn up by the Council of Florence (Mansi, t. XXXI, col. 1031), and in the decree of the Council of Trent which (Sess. XXV) defined:
"Whereas the Catholic Church, instructed by the Holy Ghost, has from the Sacred Scriptures and the ancient tradition of the Fathers taught in Councils and very recently in this Ecumenical synod (Sess. VI, cap. XXX; Sess. XXII cap.ii, iii) that there is a purgatory, and that the souls therein are helped by the suffrages of the faithful, but principally by the acceptable Sacrifice of the Altar; the Holy Synod enjoins on the Bishops that they diligently endeavor to have the sound doctrine of the Fathers in Councils regarding purgatory everywhere taught and preached, held and believed by the faithful" (Denzinger, "Enchiridon", 983).
Further than this the definitions of the Church do not go, but the tradition of the Fathers and the Schoolmen must be consulted to explain the teachings of the councils, and to make clear the belief and the practices of the faithful.
Temporal Punishment
That temporal punishment is due to sin, even after the sin itself has been pardoned by God, is clearly the teaching of Scripture. God indeed brought man out of his first disobedience and gave him power to govern all things (Wisdom 10:2), but still condemned him "to eat his bread in the sweat of his brow" until he returned unto dust. God forgave the incredulity of Moses and Aaron, but in punishment kept them from the "land of promise" (Numbers 20:12). The Lord took away the sin of David, but the life of the child was forfeited because David had made God's enemies blaspheme His Holy Name (2 Samuel 12:13-14). In the New Testament as well as in the Old, almsgiving and fasting, and in general penitential acts are the real fruits of repentance (Matthew 3:8; Luke 17:3; 3:3). The whole penitential system of the Church testifies that the voluntary assumption of penitential works has always been part of true repentance and the Council of Trent (Sess. XIV, can. xi) reminds the faithful that God does not always remit the whole punishment due to sin together with the guilt. God requires satisfaction, and will punish sin, and this doctrine involves as its necessary consequence a belief that the sinner failing to do penance in this life may be punished in another world, and so not be cast off eternally from God.
Venial Sins
All sins are not equal before God, nor dare anyone assert that the daily faults of human frailty will be punished with the same severity that is meted out to serious violation of God's law. On the other hand whosoever comes into God's presence must be perfectly pure for in the strictest sense His "eyes are too pure, to behold evil" (Habakkuk 1:13). For unrepented venial faults for the payment of temporal punishment due to sin at time of death, the Church has always taught the doctrine of purgatory.
So deep was this belief ingrained in our common humanity that it was accepted by the Jews, and in at least a shadowy way by the pagans, long before the coming of Christianity. ("Aeneid," VI, 735 sq.; Sophocles, "Antigone," 450 sq.).
II. ERRORS
Epiphanius (Haer., lxxv, P.G., XLII, col. 513) complains that Aërius (fourth century) taught that prayers for the dead were of no avail. In the Middle Ages, the doctrine of purgatory was rejected by the Albigenses, Waldenses, and Hussites. St. Bernard (Serm. lxvi in Cantic., P. L. CLXXXIII, col. 1098) states that the so-called "Apostolici" denied purgatory and the utility of prayers for the departed. Much discussion has arisen over the position of the Greeks on the question of purgatory. It would seem that the great difference of opinion was not concerning the existence of purgatory but concerning the nature of purgatorial fire; still St. Thomas proves the existence of purgatory in his dissertation against the errors of the Greeks, and the Council of Florence also thought necessary to affirm the belief of the Church on the subject (Bellarmine, "De Purgatorio," lib. I, cap. i). The modern Orthodox Church denies purgatory, but is rather inconsistent in its way of putting forth its belief.
At the beginning of the Reformation there was some hesitation especially on Luther's part (Leipzig Disputation) as to whether the doctrine should be retained, but as the breach widened, the denial of purgatory by the Reformers became universal, and Calvin termed the Catholic position "exitiale commentum quod crucem Christi evacuat . . . quod fidem nostram labefacit et evertit" (Institutiones, lib. III, cap. v, 6). Modern Protestants, while they avoid the name purgatory, frequently teach the doctrine of "the middle state," and Martensen ("Christian Dogmatics," Edinburgh, 1890, p. 457) writes: "As no soul leaves this present existence in a fully complete and prepared state, we must suppose that there is an intermediate state, a realm of progressive development, (?) in which souls are prepared for the final judgment" (Farrar, "Mercy and Judgment," London, 1881, cap. iii).
III. PROOFS
The Catholic doctrine of purgatory supposes the fact that some die with smaller faults for which there was no true repentance, and also the fact that the temporal penalty due to sin is it times not wholly paid in this life. The proofs for the Catholic position, both in Scripture and in Tradition, are bound up also with the practice of praying for the dead. For why pray for the dead, if there be no belief in the power of prayer to afford solace to those who as yet are excluded from the sight of God? So true is this position that prayers for the dead and the existence of a place of purgation are mentioned in conjunction in the oldest passages of the Fathers, who allege reasons for succouring departed souls. Those who have opposed the doctrine of purgatory have confessed that prayers for the dead would be an unanswerable argument if the modern doctrine of a "particular judgment" had been received in the early ages. But one has only to read the testimonies hereinafter alleged to feel sure that the Fathers speak, in the same breath, of oblations for the dead and a place of purgation; and one has only to consult the evidence found in the catacombs to feel equally sure that the Christian faith there expressed embraced clearly a belief in judgment immediately after death. Wilpert ("Roma Sotteranea," I, 441) thus concludes chapter 21, "Che tale esaudimento", etc.:
Intercession has been made for the soul of the dear one departed and God has heard the prayer, and the soul has passed into a place of light and refreshment." "Surely," Wilpert adds, "such intercession would have no place were there question not of the particular, but of the final judgment.
Some stress too has been laid upon the objection that the ancient Christians had no clear conception of purgatory, and that they thought that the souls departed remained in uncertainty of salvation to the last day; and consequently they prayed that those who had gone before might in the final judgment escape even the everlasting torments of hell. The earliest Christian traditions are clear as to the particular judgment, and clearer still concerning a sharp distinction between purgatory and hell. The passages alledged as referring to relief from hell cannot offset the evidence given below (Bellarmine, "De Purgatorio," lib. II, cap. v). Concerning the famous case of Trajan, which vexed the Doctors of the Middle Ages, see Bellarmine, loc. cit., cap. Viii.
Old Testament
The tradition of the Jews is put forth with precision and clearness in 2 Maccabees. Judas, the commander of the forces of Israel,
making a gathering . . . sent twelve thousand drachmas of silver to Jerusalem for sacrifice to be offered for the sins of the dead, thinking well and religiously concerning the resurrection (For if he had not hoped that they that were slain should rise again, it would have seemed superfluous and vain to pray for the dead). And because he considered that they who had fallen asleep with godliness, had great grace laid up for them. It is therefore a holy and wholesome thought to pray for the dead, that they may be loosed from sins. (2 Maccabees 12:43-46)
At the time of the Maccabees the leaders of the people of God had no hesitation in asserting the efficacy of prayers offered for the dead, in order that those who had departed this life might find pardon for their sins and the hope of eternal resurrection.
New Testament
There are several passages in the New Testament that point to a process of purification after death. Thus, Jesus Christ declares (Matthew 12:32): "And whosoever shall speak a word against the Son of man, it shall be forgiven him: but he that shall speak against the Holy Ghost, it shall not be forgiven him, neither in this world, nor in the world to come." According to St. Isidore of Seville (Deord. creatur., c. xiv, n. 6) these words prove that in the next life "some sins will be forgiven and purged away by a certain purifying fire." St. Augustine also argues "that some sinners are not forgiven either in this world or in the next would not be truly said unless there were other [sinners] who, though not forgiven in this world, are forgiven in the world to come" (De Civ. Dei, XXI, xxiv). The same interpretation is given by Gregory the Great (Dial., IV, xxxix); St. Bede (commentary on this text); St. Bernard (Sermo lxvi in Cantic., n. 11) and other eminent theological writers.
A further argument is supplied by St. Paul in 1 Corinthians 3:11-15:
"For other foundation no man can lay, but that which is laid; which is Christ Jesus. Now if any man build upon this foundation, gold, silver, precious stones, wood, hay stubble: Every man's work shall be manifest; for the day of the Lord shall declare it, because it shall be revealed in fire; and the fire shall try every man's work, of what sort it is. If any man's work abide, which he hath built thereupon, he shall receive a reward. If any man's work burn, he shall suffer loss: but he himself shall be saved, yet so as by fire."
While this passage presents considerable difficulty, it is regarded by many of the Fathers and theologians as evidence for the existence of an intermediate state in which the dross of lighter transgressions will be burnt away, and the soul thus purified will be saved. This, according to Bellarmine (De Purg., I, 5), is the interpretation commonly given by the Fathers and theologians; and he cites to this effect:
St. Ambrose (commentary on the text, and Sermo xx in Ps. cxvii),
St. Jerome, (Comm. in Amos, c. iv),
St. Augustine (Comm. in Ps. xxxvii),
St. Gregory (Dial., IV, xxxix), and
Origen (Hom. vi in Exod.).
See also St. Thomas, "Contra Gentes,", IV, 91. For a discussion of the exegetical problem, see Atzberger, "Die christliche Eschatologie", p. 275.
Tradition
This doctrine that many who have died are still in a place of purification and that prayers avail to help the dead is part of the very earliest Christian tradition. Tertullian "De corona militis" mentions prayers for the dead as an Apostolic ordinance, and in "De Monogamia" (cap. x, P. L., II, col. 912) he advises a widow "to pray for the soul of her husband, begging repose for him and participation in the first resurrection"; he commands her also "to make oblations for him on the anniversary of his demise," and charges her with infidelity if she neglect to succour his soul. This settled custom of the Church is clear from St. Cyprian, who (P. L. IV, col. 399) forbade the customary prayers for one who had violated the ecclesiastical law. "Our predecessors prudently advised that no brother, departing this life, should nominate any churchman as his executor; and should he do it, that no oblation should be made for him, nor sacrifice offered for his repose." Long before Cyprian, Clement of Alexandria had puzzled over the question of the state or condition of the man who, reconciled to God on his death-bed, had no time for the fulfilment of penance due his transgression. His answer is: "the believer through discipline divests himself of his passions and passes to the mansion which is better than the former one, passes to the greatest torment, taking with him the characteristic of repentance for the faults he may have committed after baptism. He is tortured then still more, not yet attaining what he sees others have acquired. The greatest torments are assigned to the believer, for God's righteousness is good, and His goodness righteous, and though these punishments cease in the course of the expiation and purification of each one, "yet" etc. (P. G. IX, col. 332).
In Origen the doctrine of purgatory is very clear. If a man departs this life with lighter faults, he is condemned to fire which burns away the lighter materials, and prepares the soul for the kingdom of God, where nothing defiled may enter. "For if on the foundation of Christ you have built not only gold and silver and precious stones (1 Corinthians 3); but also wood and hay and stubble, what do you expect when the soul shall be separated from the body? Would you enter into heaven with your wood and hay and stubble and thus defile the kingdom of God; or on account of these hindrances would you remain without and receive no reward for your gold and silver and precious stones? Neither is this just. It remains then that you be committed to the fire which will burn the light materials; for our God to those who can comprehend heavenly things is called a cleansing fire. But this fire consumes not the creature, but what the creature has himself built, wood and hay and stubble. It is manifest that the fire destroys the wood of our transgressions and then returns to us the reward of our great works." (P. G., XIII, col. 445, 448).
The Apostolic practice of praying for the dead which passed into the liturgy of the Church, is as clear in the fourth century as it is in the twentieth. St. Cyril of Jerusalem (Catechet. Mystog., V, 9, P.G., XXXIII, col. 1116) describing the liturgy, writes: "Then we pray for the Holy Fathers and Bishops that are dead; and in short for all those who have departed this life in our communion; believing that the souls of those for whom prayers are offered receive very great relief, while this holy and tremendous victim lies upon the altar." St. Gregory of Nyssa (P. G., XLVI, col. 524, 525) states that man's weaknesses are purged in this life by prayer and wisdom, or are expiated in the next by a cleansing fire. "When he has quitted his body and the difference between virtue and vice is known he cannot approach God till the purging fire shall have cleansed the stains with which his soul was infested. That same fire in others will cancel the corruption of matter, and the propensity to evil." About the same time the Apostolic Constitution gives us the formularies used in succouring the dead. "Let us pray for our brethren who sleep in Christ, that God who in his love for men has received the soul of the departed one, may forgive him every fault, and in mercy and clemency receive him into the bosom of Abraham, with those who in this life have pleased God" (P. G. I, col. 1144). Nor can we pass over the use of the diptychs where the names of the dead were inscribed; and this remembrance by name in the Sacred Mysteries--(a practice that was from the Apostles) was considered by Chrysostom as the best way of relieving the dead (In I Ad Cor., Hom. xli, n. 4, G., LXI, col. 361, 362).
The teaching of the Fathers, and the formularies used in the Liturgy of the Church, found expression in the early Christian monuments, particularly those contained in the catacombs. On the tombs of the faithful were inscribed words of hope, words of petition for peace and for rest; and as the anniversaries came round the faithful gathered at the graves of the departed to make intercession for those who had gone before. At the bottom this is nothing else than the faith expressed by the Council of Trent (Sess. XXV, "De Purgatorio"), and to this faith the inscriptions in the catacombs are surely witnesses.
In the fourth century in the West, Ambrose insists in his commentary on St. Paul (1 Corinthians 3) on the existence of purgatory, and in his masterly funeral oration (De obitu Theodosii), thus prays for the soul of the departed emperor: "Give, O Lord, rest to Thy servant Theodosius, that rest Thou hast prepared for Thy saints. . . . I loved him, therefore will I follow him to the land of the living; I will not leave him till by my prayers and lamentations he shall be admitted unto the holy mount of the Lord, to which his deserts call him" (P. L., XVI, col. 1397). St. Augustine is clearer even than his master. He describes two conditions of men; "some there are who have departed this life, not so bad as to be deemed unworthy of mercy, nor so good as to be entitled to immediate happiness" etc., and in the resurrection he says there will be some who "have gone through these pains, to which the spirits of the dead are liable" (De Civ. Dei, XXI, 24). Thus at the close of the fourth century:
not only were prayers for the dead found in all the Liturgies, but the Fathers asserted that such practice was from the Apostles themselves;
those who were helped by the prayers of the faithful and by the celebration of the Holy Mysteries were in a place of purgation;
from which when purified they "were admitted unto the Holy Mount of the Lord".
So clear is this patristic Tradition that those who do not believe in purgatory have been unable to bring any serious difficulties from the writings of the Fathers. The passages cited to the contrary either do not touch the question at all, or are so lacking in clearness that they cannot offset the perfectly open expression of the doctrine as found in the very Fathers who are quoted as holding contrary opinions (Bellarmine "De Purg.", lib. I, cap. xiii).
IV. DURATION AND NATURE
Duration
The very reasons assigned for the existence of purgatory make for its passing character. We pray, we offer sacrifice for souls therein detained that "God in mercy may forgive every fault and receive them into the bosom of Abraham" (Const. Apost., P. G., I col. 1144); and Augustine (De Civ. Dei, lib. XXI, cap.xiii and xvi) declares that the punishment of purgatory is temporary and will cease, at least with the Last Judgment. "But temporary punishments are suffered by some in this life only, by others after death, by others both now and then; but all of them before that last and strictest judgment."
Nature of Punishment
It is clear from the Liturgies and the Fathers above cited that the souls for whose peace sacrifice was offered were shut out for the time being from the sight of God. They were "not so good as to be entitled to eternal happiness". Still, for them "death is the termination not of nature but of sin" (Ambrose, "De obitu Theodos."); and this inability to sin makes them secure of final happiness. This is the Catholic position proclaimed by Leo X in the Bull "Exurge Domine" which condemned the errors of Luther.
Are the souls detained in purgatory conscious that their happiness is but deferred for a time, or may they still be in doubt concerning their ultimate salvation? The ancient Liturgies and the inscriptions of the catacombs speak of a "sleep of peace", which would be impossible if there was any doubt of ultimate salvation. Some of the Doctors of the Middle Ages thought uncertainty of salvation one of the severe punishments of purgatory. (Bellarmine, "De Purgat." lib. II, cap. iv); but this opinion finds no general credit among the theologians of the medieval period, nor is it possible in the light of the belief in the particular judgment. St. Bonaventure gives as the reason for this elimination of fear and of uncertainty the intimate conviction that they can no longer sin (lib. IV, dist. xx, p.1, a.1 q. iv): "Est evacuatio timoris propter confirniationem liberi arbitrii, qua deinceps scit se peccare non posse" (Fear is cast out because of the strengthening of the will by which the soul knows it can no longer sin), and St. Thomas (dist. xxi, q. i, a.1) says: "nisi scirent se esse liberandas suffragia non peterent" (unless they knew that they are to be delivered, they would not ask for prayers).
Merit
In the Bull "Exurge Domine" Leo X condemns the proposition (n. 38) "Nec probatum est ullis aut rationibus aut scripturis ipsas esse extra statum merendi aut augendae caritatis" (There is no proof from reason or Scripture that they [the souls in purgatory] cannot merit or increase in charity). For them "the night has come in which no man can labour", and Christian tradition has always considered that only in this life can man work unto the profit of his own soul. The Doctors of the Middle Ages while agreeing that this life is the time for merit and increase of grace, still some with St. Thomas seemed to question whether or not there might be some non-essential reward which the souls in purgatory might merit (IV, dist. xxi, q. i, a. 3). Bellarmine believes that in this matter St. Thomas changed his opinion and refers to a statement of St. Thomas ("De Malo", q. vii, a. 11). Whatever may be the mind of the Angelic Doctor, theologians agree that no merit is possible in purgatory, and if objection be urged that the souls there merit by their prayers, Bellarmine says that such prayers avail with God because of merit already acquired "Solum impetrant ex meritis praeteritis quomodo nunc sancti orando) pro nobis impetrant licet non merendo" (They avail only in virtue of past merits as those who are now saints intercede for us not by merit but by prayer). (loc. cit. II, cap. iii).
Purgatorial Fire
At the Council of Florence, Bessarion argued against the existence of real purgatorial fire, and the Greeks were assured that the Roman Church had never issued any dogmatic decree on this subject. In the West the belief in the existence of real fire is common. Augustine in Ps. 37 n. 3, speaks of the pain which purgatorial fire causes as more severe than anything a man can suffer in this life, "gravior erit ignis quam quidquid potest homo pati in hac vita" (P. L., col. 397). Gregory the Great speaks of those who after this life "will expiate their faults by purgatorial flames," and he adds "that the pain be more intolerable than any one can suffer in this life" (Ps. 3 poenit., n. 1). Following in the footsteps of Gregory, St. Thomas teaches (IV, dist. xxi, q. i, a.1) that besides the separation of the soul from the sight of God, there is the other punishment from fire. "Una poena damni, in quantum scilicet retardantur a divina visione; alia sensus secundum quod ab igne punientur", and St. Bonaventure not only agrees with St. Thomas but adds (IV, dist. xx, p.1, a.1, q. ii) that this punishment by fire is more severe than any punishment which comes to men in this life; "Gravior est omni temporali poena. quam modo sustinet anima carni conjuncta". How this fire affects the souls of the departed the Doctors do not know, and in such matters it is well to heed the warning of the Council of Trent when it commands the bishops "to exclude from their preaching difficult and subtle questions which tend not to edification', and from the discussion of which there is no increase either in piety or devotion" (Sess. XXV, "De Purgatorio").
V. SUCCOURING THE DEAD
Scripture and the Fathers command prayers and oblations for the departed, and the Council of Trent (Sess. XXV, "De Purgatorio") in virtue of this tradition not only asserts the existence of purgatory, but adds "that the souls therein detained are aided by the suffrages of the faithful and principally by the acceptable sacrifice of the altar." That those on earth are still in communion with the souls in purgatory is the earliest Christian teaching, and that the living aid the dead by their prayers and works of satisfaction is clear from the tradition above alleged. That the Holy Sacrifice was offered for the departed was received Catholic Tradition even in the days of Tertullian and Cyprian, and that the souls of the dead, were aided particularly "while the sacred victim lay upon the altar" is the expression of Cyril of Jerusalem quoted above. Augustine (Serm.. clxii, n. 2) says that the "prayers and alms of the faithful, the Holy Sacrifice of the altar aid the faithful departed and move the Lord to deal with them in mercy and kindness, and," he adds, "this is the practice of the universal Church handed down by the Fathers." Whether our works of satisfaction performed on behalf of the dead avail purely out of God's benevolence and mercy, or whether God obliges himself in justice to accept our vicarious atonement, is not a settled question. Francisco Suárez thinks that the acceptance is one of justice, and alleges the common practice of the Church which joins together the living and the dead without any discrimination (De poenit., disp. xlviii, 6, n. 4).
VI. INDULGENCES
The Council of Trent (Sess. XXV) defined that indulgences are "most salutary for Christian people" and that their "use is to be retained in the Church". It is the common teaching of Catholic theologians that
indulgences may be applied to the souls detained in purgatory; and
that indulgences are available for them "by way of suffrage" (per modum suffragii).
(1) Augustine (De Civ. Dei, XX, ix) declares that the souls of the faithful departed are not separated from the Church, which is the kingdom of Christ, and for this reason the prayers and works of the living are helpful to the dead. "If therefore", argues Bellarmine (De indulgentiis, xiv) "we can offer our prayers and our satisfactions in behalf of those detained in purgatory, because we are members of the great body of Christ, why may not the Vicar of Christ apply to the same souls the superabundant satisfaction of Christ and his saints--of which he is the dispenser?" This is the doctrine of St. Thomas (IV, Sent., dist. xlv, q. ii, a. 3, q. 2) who asserts that indulgences avail principally for the person who performs the work for which the indulgence is given, if they but secondarily may avail even for the dead, if the form in which the indulgence is granted be so worded as to be capable of such interpretation, and he adds "nor is there any reason why the Church may not dispose of its treasure of merits in favour of the dead, as it surely dispenses it in favour of the living".
(2) St. Bonaventure (IV, Sent., dist. xx, p. 2, q. v) agrees with St. Thomas, but adds that such "relaxation cannot be after the manner of absolution as in the case of the living but only as suffrage (Haec non tenet modum judicii, sed potius suffragii). This opinion of St. Bonaventure, that the Church through its Supreme Pastor does not absolve juridically the souls in purgatory from the punishment due their sins, is the teaching of the Doctors. They point out (Gratian, 24 q. ii, 2, can.1) that in case of those who have departed this life, judgment is reserved to God; they allege the authority of Gelasius (Ep. ad Fausturn; Ep. ad. Episcopos Dardaniae) in support of their contention (Gratian ibid.), and they also insist that the Roman Pontiffs, when they grant indulgences that are applicable to the dead, add the restriction "per modum suffragii et deprecationis". This phrase is found in the Bull of Sixtus IV "Romani Pontificis provida diligentia", 27 Nov. 1447.
The phrase "per modum suffragi et deprecationis" has been variously interpreted by theologians (Bellarmine, "De indulgentiis", p.137). Bellarmine himself says: "The true opinion is that indulgences avail as suffrage, because they avail not after the fashion of a juridical absolution 'quia non prosunt per modum juridicae absolutionis'." But according to the same author the suffrages of the faithful avail at times "per modum meriti congrui" (by way of merit), at times "per modum impetrationis" (by way of supplication) at times "per modum satisfactionis" (by way of satisfaction); but when there is question of applying an indulgence to one in purgatory it is only "per modum suffragii satisfactorii" and for this reason "the pope does not absolve the soul in purgatory from the punishment due his sin, but offers to God from the treasure of the Church whatever may be necessary for the cancelling of this punishment".
If the question be further asked whether such satisfaction is accepted by God out of mercy and benevolence, or "ex justitia", theologians are not in accord — some holding one opinion, others the other. Bellarmine after canvassing both sides (pp. 137, 138) does not dare to set aside "either opinion, but is inclined to think that the former is more reasonable while he pronounces the latter in harmony with piety ("admodum pia").
Condition
That an indulgence may avail for those in purgatory several conditions are required:
The indulgence must be granted by the pope.
There must be a sufficient reason for granting the indulgence, and this reason must be something pertaining to the glory of God and the utility of the Church, not merely the utility accruing to the souls in purgatory.
The pious work enjoined must be as in the case of indulgences for the living.
If the state of grace be not among the required works, in all probability the person performing the work may gain the indulgence for the dead, even though he himself be not in friendship with God (Bellarmine, loc. cit., p. 139). Francisco Suárez (De Poenit., disp. Iiii, s. 4, n. 5 and 6) puts this categorically when he says: "Status gratiae solum requiritur ad tollendum obicem indulgentiae" (the state of grace is required only to remove some hindrance to the indulgence), and in the case of the holy souls there can be no hindrance. This teaching is bound up with the doctrine of the Communion of Saints, and the monuments of the catacombs represent the saints and martyrs as interceding with God for the dead. The prayers too of the early liturgies speak of Mary and of the saints interceding for those who have passed from this life. Augustine believes that burial in a basilica dedicated to a holy martyr is of value to the dead, for those who recall the memory of him who has suffered will recommend to the martyr's prayers the soul of him who has departed this life (Bellarmine, lib. II, xv). In the same place Bellarmine accuses Dominicus A Soto of rashness, because he denied this doctrine.
VII. INVOCATION OF SOULS
Do the souls in purgatory pray for us? May we call upon them in our needs? There is no decision of the Church on this subject, nor have the theologians pronounced with definiteness concerning the invocation of the souls in purgatory and their intercession for the living. In the ancient liturgies there are no prayers of the Church directed to those who are still in purgatory. On the tombs of the early Christians nothing is more common than a prayer or a supplication asking the departed to intercede with God for surviving friends, but these inscriptions seem always to suppose that the departed one is already with God. St. Thomas (II-II:83:11) denies that the souls in purgatory pray for the living, and states they are not in a position to pray for us, rather we must make intercession for them. Despite the authority of St. Thomas, many renowned theologians hold that the souls in purgatory really pray for us, and that we may invoke their aid. Bellarmine (De Purgatorio, lib. II, xv,) says the reason alleged by St. Thomas is not at all convincing, and holds that in virtue of their greater love of God and their union with Him their prayers may have great intercessory power, for they are really superior to us in love of God, and in intimacy of union with Him. Francisco Suárez (De poenit., disp. xlvii, s. 2, n. 9) goes farther and asserts "that the souls in purgatory are holy, are dear to God, love us with a true love and are mindful of our wants; that they know in a general way our necessities and our dangers, and how great is our need of divine help and divine grace".
When there is question of invoking the prayers of those in purgatory, Bellarmine (loc. cit.) says it is superfluous, ordinarily speaking, for they are ignorant of our circumstances and condition. This is at variance with the opinion of Francisco Suárez, who admits knowledge at least in a general way, also with the opinions of many modern theologians who point to the practice now common with almost all the faithful of addressing their prayers and petitions for help to those who are still in a place of purgation. Scavini (Theol. Moral., XI, n. l74) sees no reason why the souls detained in purgatory may not pray for us, even as we pray for one another. He asserts that this practice has become common at Rome, and that it has the great name of St. Alphonsus in its favour. St. Alphonsus in his work the "Great Means of Salvation", chap. I, III, 2, after quoting Sylvius, Gotti, Lessius, and Medina as favourable to his opinion, concludes: "so the souls in purgatory, being beloved by God and confirmed in grace, have absolutely no impediment to prevent them from praying for us. Still the Church does not invoke them or implore their intercession, because ordinarily they have no cognizance of our prayers. But we may piously believe that God makes our prayers known to them". He alleges also the authority of St. Catharine of Bologna who "whenever she desired any favour had recourse to the souls in purgatory, and was immediately heard".
VIII. UTILITY OF PRAYER FOR THE DEPARTED
It is the traditional faith of Catholics that the souls in purgatory are not separated from the Church, and that the love which is the bond of union between the Church's members should embrace those who have departed this life in God's grace. Hence, since our prayers and our sacrifices can help those who are still waiting in purgatory, the saints have not hesitated to warn us that we have a real duty toward those who are still in purgatorial expiation. Holy Church through the Congregation of Indulgences, 18 December 1885, has bestowed a special blessing on the so-called "heroic act" in virtue of which "a member of the Church militant offers to God for the souls in purgatory all the satisfactory works which he will perform during his lifetime, and also all the suffrages which may accrue to him after his death" (Heroic Act, vol. VII, 292). The practice of devotion to the dead is also consoling to humanity and eminently worthy of a religion which seconds all the purest feelings of the human heart. "Sweet", says Cardinal Wiseman (lecture XI), "is the consolation of the dying man, who, conscious of imperfection, believes that there are others to make intercession for him, when his own time for merit has expired; soothing to the afflicted survivors the thought that they possess powerful means of relieving their friend. In the first moments of grief, this sentiment will often overpower religious prejudice, cast down the unbeliever on his knees beside the remains of his friend and snatch from him an unconscious prayer for rest; it is an impulse of nature which for the moment, aided by the analogies of revealed truth, seizes at once upon this consoling belief. But it is only a flitting and melancholy light, while the Catholic feeling, cheering though with solemn dimness, resembles the unfailing lamp, which the piety of the ancients is said to have hung before the sepulchres of their dead."
API PENYUCIAN " AHI HAMOS KLAMAR"
Pasal 12: Api Penyucian
Apakah yang dimaksud dengan Api Penyucian?
Suatu keadaan atau kondisi hukuman sementara setelah kematian. Sebagai kontrasnya, neraka adalah keadaan atau kondisi hukuman abadi. Ini merujuk pada pemurnian, penyucian. Api Penyucian adalah "tempat" dimana jiwa-jiwa dibersihkan dari akibat-akibat dosa.
Bagaimana kita tahu bahwa Api Penyucian itu ada?
Alkitab, Tradisi, dan ajaran serta praktek Gereja Katolik, dan bahkan akal sehat sekalipun, membuktikan adanya Api Penyucian
Bagaimana akal sehat bisa menunjukkan keberadaan Api Penyucian?
Hanya orang-orang yang menanggung dosa maut yang masuk ke neraka. Di lain pihak, tak seorangpun bisa masuk ke surga meski hanya dengan dosa yang terkecil sekalipun. Pasti ada tempat penebusan dan pemurnian bagi dosa-dosa ringan dan kekurangan-kekurangan kita lainnya.
Siapa yang masuk ke Api Penyucian?
Mereka yang telah memelihara karunia rahmat tetapi:
a. meninggal dengan masih memiliki dosa-dosa ringan yang belum dimaafkan.
b. meninggal tanpa melakukan penitensi yang mencukupi untuk membayar hutang hukuman sementara yang diakibatkan oleh dosa-dosa mereka di masa lalu.
Apakah yang dimaksud dengan: "hukuman sementara sebagai akibat dosa" ?
Meskipun Allah mengampuni dosa-dosamu, Dia tetap menuntut penitensi atau hukuman dalam hidup ini atau hidup yang berikutnya.
Apakah ada penderitaan di Api Penyucian bagi mereka yang masuk kesana?
Ya, selain disebabkan karena untuk sementara tertunda dari persatuan dengan Allah di surga, mereka yang di api penyucian juga harus menderita sengsara proses pemurnian.
Berapa lama seseorang harus menderita di Api Penyucian?
Tergantung dari jumlah dan besar dosa-dosa mereka yang harus ditebus.
Setelah dilepaskan dari Api Penyucian, kemanakah kita?
Ke surga untuk berada bersama-sama dengan Allah dalam sukacita sempurna yang abadi.
Bagaimana kamu bisa menolong jiwa-jiwa di Api Penyucian?
Kamu bisa memperpendek penderitaan mereka dengan merayakan Misa Kudus bagi mereka, berdoa bagi mereka dan melakukan perbuatan-perbuatan amal bagi mereka.
Apakah Alkitab mengajarkan kita untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah meninggal?
Ya, kita mengetahui bahwa Yudas Makabeus mengirim 12000 keping perak ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban bagi dosa-dosa mereka yang sudah meninggal. (2 Makabe 12:43)
Bagaimana kamu bisa terhindar dari Api Penyucian?
Dengan berusaha untuk menghindari segala dosa-dosa, bahkan yang terkecil sekalipun, dan dengan melakukan penitensi bagi dosa-dosa yang telah dimaafkan.
Bahan Renungan
Hari Raya seluruh jiwa adalah hari yang disediakan oleh Gereja bagi doa-doa dan Misa-Misa khusus bagi jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian. Hari ini dirayakan setiap tanggal 2 November.
Mereka yang berada di Api Penyucian tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Kita harus membantu mereka dengan doa-doa kita dan pengurbanan kita. Yang kita tahu, mereka pada gilirannya juga bisa dan dapat berdoa bagi kita.
RAHASIA ARWAH-ARWAH DI API PENYUCIAN
Wawancara Suster Emmanuel dari Medjugorje dengan visionari Maria Simma
Suatu hari, saya membaca dengan penuh antusias sebuah buku mengenai arwah-arwah di Api Penyucian. Saya sungguh terpesona karena isinya menyangkut kesaksian-kesaksian baru-baru ini dan juga menjelaskan dengan baik tentang doktrin-doktrin Gereja Katolik tentang topik tersebut. Buku itu dikarang oleh Maria Simma, dan berjudul The Souls in Purgatory Told Me... (Jiwa-jiwa di Api Penyucian Bercerita Kepada Saya). Segera saya menulis kepada editor yang lantas memberitahu bahwa Maria Simma masih hidup. Secepatnya saya menghubunginya dan dia setuju bertemu dengan saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang banyak!
Saya senang, karena setiap kali saya mendapat kesempatan untuk berbicara atau berceramah tentang jiwa-jiwa yang malang, saya menemukan bahwa ada rasa tertarik yang kuat dari para pendengar. Seringkali, mereka memohon saya untuk bercerita lebih lanjut, mendesak saya lebih jauh, dan bertanya: "Ceritakanlah lebih mendetail, hal-hal lain tentang jiwa-jiwa ini." Saya melihat nyatanya bahwa ceramah saya memenuhi kehausan yang vital, kehausan untuk mengetahui apa yang menunggu kita, masing-masing, setelah kematian.
Harus disebutkan juga disini bahwa topik ini sangat jarang diajarkan lagi di paroki-paroki maupun dalam katekis, praktisnya tidak dimanapun. Jadi ada kekosongan besar, boleh dikatakan suatu keacuhan, bahkan kegelisahan terhadap realitas yang menyangkut hal-hal akhir.
Oleh karena itu buku kecil ini akan membantu untuk menghapuskan kekhawatiran kita terhadap Api Penyucian tetapi juga mengajarkan kita, semoga, untuk mengerti rencana Tuhan bagi kita, takdir kita sungguh-sungguh luar biasa, indah, dan patut mendapat rasa antusiasme kita. Demikian juga, bahwa kita punya kemampuan selama masih di bumi ini untuk memberikan kebahagiaan bagi arwah orang-orang yang sudah meninggal, bagi satu hal, dan untuk menemukan kebahagiaan itu bagi diri kita sendiri juga, dalam hidup kita.
Sekarang, Maria Simma berumur 82 tahun; dia tinggal sendirian di rumah kecil di Sonntag, sebuah desa yang bersahaja di pegunungan Vorarlberg, Austria, dan disanalah saya menemuinya.
Siapakah Maria Simma?
Seorang wanita desa yang sejak masa kanak-kanaknya, telah banyak berdoa bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian. Ketika ia berumur 25 tahun, dia diberi karisma yang lain dari pada yang lain di Gereja, yang sangat langka, yaitu karisma kunjungan oleh jiwa-jiwa di Api Penyucian. Dia adalah seorang umat Katolik yang taat dan sangat rendah hati, dan sangat sederhana. Dia diberi banyak dorongan bagi tugasnya oleh pastor paroki maupun bapa uskup setempat. Meskipun mendapat karisma yang sifatnya sangat luar biasa, dia hidup dalam kemiskinan. Contohnya, di kamarnya yang kecil kami hampir sama sekali tidak memiliki ruang gerak di sekitar kursi-kursi yang diberikan kepada kami...
Suatu karisma yang langka? Ya, tetapi jelas punya akar yang mendalam pada sejarah Gereja, karena banyak orang kudus baik yang dikanonisasi atau tidak, yang memiliki karisma serupa. Saya bisa sebutkan contohnya, Santa Gertrude, Santa Catherine dari Genoa yang banyak menulis tentang Api Penyucian, Maryam dari Yesus, Santa Margaret Mary dari Paray-le-Monial yang mendapat penglihatan Hati Kudus, Cure de Ars (Santo John Mary Vianney) yang kudus, Beata Faustina Kowalska, Santo John Bosco, Beata Maryam dari Betlehem, dan lain-lainnya. Sebuah buku bisa ditulis tentang topik ini, bahkan saya pikir sudah ada beberapa buku. Kalau kita memperhatikan dengan seksama ajaran-ajaran para kudus ini, kita lihat bahwa mereka semua mengatakan hal yang sama; dan Maria Simma bisa dibilang sekedar menghidupkan kembali kesaksian-kesaksian para kudus lainnya.
Inilah alasannya mengapa saya tidak ragu-ragu untuk mewawancarainya, karena dia hidup pada masa yang sama dengan kita, dan bersedia menyediakan waktunya. Bisa anda bayangkan kalau saya memberondongnya dengan banyak pertanyaan-pertanyaan, setidaknya hampir semuanya!... Masalahnya adalah dia sama sekali tidak dapat berbahasa Perancis, dan karenanya saya harus menggunakan seorang penterjemah.
Demi singkatnya dan jelasnya saya akan merangkum beberapa jawaban-jawaban Maria sedangkan pada kesempatan lain saya menterjemahkan kata-katanya sendiri. Saya juga akan menambahkan disana sini komentar-komentar saya pribadi.
Wawancara dengan Maria Simma
PERTAMA KALINYA
Maria, bisakah anda menceritakan kepada kami bagaimana anda pertama kali dikunjungi oleh arwah dari Api Penyucian?
Ya, waktu itu tahun 1940. Suatu malam, sekitar jam 3 atau 4 pagi, saya mendengar seseorang masuk ke dalam kamar tidur saya. Hal itu membuat saya terbangun. Saya mencari-cari siapa gerangan yang dapat masuk ke dalam kamar tidur saya.
Apakah anda ketakutan?
Tidak, saya tidak takut sama sekali. Bahkan sewaktu saya masih kecil, ibu saya mengatakan bahwa saya anak yang spesial karena saya tidak pernah merasa takut.
Jadi, malam itu... ceritakanlah kepada kami!
Saya melihat seorang yang sama sekali tidak saya kenal. Dia berjalan bolak balik secara perlahan. Saya berseru keras kepadanya: "Bagaimana anda dapat masuk kesini? Pergilah!" Tetapi dia terus berjalan dengan tidak sabar disekeliling kamar tidur, seolah-olah dia tidak mendengar perkataan saya. Jadi saya kembali bertanya: "Apa yang sedang anda lakukan?" Tetapi karena dia tetap tidak memberi jawaban, saya turun dari ranjang dan mencoba menjamahnya, tetapi saya hanya menjamah udara kosong. Tidak ada apa-apa disana. Jadi saya kembali ke ranjang, tetapi kembali saya mendengarnya berjalan bolak-balik.
Saya membayangkan bagaimana saya bisa melihat lelaki ini tetapi saya tidak dapat menjamahnya. Saya bangkit kembali untuk mencoba memegang orang itu dan menghentikan dia; kembali saya hanya merasakan kekosongan belaka.
Bingung, saya lantas kembali ke ranjang. Dia tidak muncul kembali, tetapi saya tidak dapat kembali tidur. Hari berikutnya setelah Misa, saya menemui pembimbing spiritual saya dan menceritakan segalanya kepadanya. Dia berkata bahwa jika hal ini terulang kembali, saya jangan bertanya, "Siapakah anda?" melainkan "Apa yang anda inginkan dari saya?"
Malam berikutnya orang tersebut muncul kembali, jelas-jelas orang yang sama. Saya bertanya kepadanya "Apa yang anda inginkan dari saya?" Dia menjawab: "Rayakan tiga Misa Kudus bagi saya dan saya akan dibebaskan."
Jadi saya mengerti bahwa ia adalah arwah di Api Penyucian. Pembimbing spiritual saya menegaskan hal ini.
Dia juga menasehatkan agar saya jangan mengusir jiwa-jiwa yang malang tersebut, tetapi menerima mereka dengan segala kemurahan hati apapun yang mereka minta dari saya.
Dan setelah itu, apakah kunjungan-kunjungan itu berlanjut?
Ya. Selama beberapa tahun, hanya ada tiga atau empat arwah, semua di bulan November. Setelah itu, ada lebih banyak lagi.
SEBUAH LUKA-KASIH
Apa yang diminta oleh arwah-arwah ini dari anda?
Pada umumnya mereka minta dirayakan Misa-misa Kudus dan seseorang hadir pada Misa-misa tersebut; mereka meminta supaya doa-doa Rosario diucapkan dan juga agar seseorang melakukan Perhentian-perhentian Jalan Salib.
Pada saat ini, suatu pertanyaan utama muncul: Sesungguhnya apakah Api Penyucian tersebut? Saya akan katakan bahwa itu adalah merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa. Ijinkan saya untuk memberikan anda suatu gambaran dari saya sendiri. Misalkan suatu ketika sebuah pintu terbuka dan sesosok mahluk muncul, sangat luar biasa indah, keindahan yang tidak pernah ada di dunia. Anda terpesona, terpesona oleh mahluk cahaya yang indah ini, terlebih-lebih mahluk tersebut menunjukkan bahwa ia sangat mengasihi anda - anda tidak pernah membayangkan kalau anda begitu dikasihi. Anda juga merasakan bahwa anda punya keinginan besar untuk menjadi satu dengannya. Dan api cintakasih yang menyala dalam hati anda mendorong anda untuk menyerahkan diri anda kedalam tangannya.
Tetapi tunggu dulu - anda sadar pada saat ini bahwa anda belum mandi selama berbulan-bulan dan anda bau sekali; hidung anda penuh lendir, rambut anda kotor dan lengket, ada noda besar di baju anda dan lain sebagainya. Jadi anda berkata kepada diri sendiri, "Saya tidak bisa memberikan diri saya dengan kondisi seperti ini. Pertama saya harus pergi dan membersihkan diri: mandi bersih, lantas saya akan segera kembali."
Tetapi cintakasih yang telah lahir dalam hati anda begitu kuatnya, menyala-nyala, begitu dahsyat, sehingga penundaan ini demi untuk membersihkan diri ini menjadi sangat tidak tertahankan. Dan rasa sakit karena absennya anda, meski jika hanya untuk selama beberapa menit saja, adalah luka yang hebat di dalam hati, proporsional terhadap intensitas pernyataan cintakasih - ini adalah sebuah "luka cinta-kasih".
Api Penyucian tepat seperti ini. Sebuah penundaan yang diakibatkan oleh ketidak-sucian kita sendiri, sebuah penundaan sebelum menerima Tuhan, sebuah luka cintakasih yang menyebabkan penderitaan yang luar biasa, sebuah penungguan, sebuah nostalgia cintakasih. Pembakaran inilah tepatnya, kerinduan ini yang membersihkan kita dari apapun yang masih kotor dalam diri kita. Api Penyucian adalah suatu tempat keinginan, keinginan yang dahsyat akan Tuhan, kerinduan akan Tuhan yang telah kita kenal, karena kita telah menyaksikannya, tetapi dengan siapa kita belum dipersatukan.
Sekarang saya akan menanyakan kepada Maria untuk menjelaskan sebuah poin yang mendasar:
Maria, apakah jiwa-jiwa di Api Penyucian memiliki, setidak-tidaknya, suka cita dan pengharapan di tengah-tengah penderitaan mereka
Ya. Tidak ada arwah yang ingin kembali dari Api Penyucian ke dunia. Mereka memiliki pengetahuan yang jauh melebihi yang kita miliki. Mereka sungguh tidak dapat memutuskan untuk kembali ke kegelapan dunia.
Disini kita melihat perbedaan dari penderitaan yang kita kenal di dunia. Di Api Penyucian, meskipun penderitaan yang dialami oleh jiwa begitu hebatnya, ada kepastian akan hidup selamanya dengan Tuhan. Ini adalah kepastian yang tidak tergoyahkan. Kesukacitaannya lebih besar daripada penderitaan. Tidak ada apapun di bumi yang dapat membuat mereka ingin kembali kesana, dimana seseorang tidak pernah dapat yakin akan segala sesuatu.
Maria, dapatkan anda menceritakan kepada kami sekarang jikalau Tuhanlah yang mengirimkan arwah seseorang kedalam Api Penyucian, atau apakah arwah tersebut sendiri yang memutuskan untuk pergi ke sana?
Arwah itu sendiri yang ingin pergi ke Api Penyucian, demi untuk menjadi murni sebelum dapat masuk ke Surga.
Arwah-arwah di Api Penyucian menurut pada kehendak Allah sepenuhnya, mereka bersukacita atas kebaikan, mereka menginginkan yang terbaik bagi kita dan mereka sangat mengasihi: mereka mengasihi Allah dan mereka juga mengasihi kita. Mereka dipersatukan dengan sempurna dengan Roh Allah, terang Allah.
Maria, pada saat ajal, apakah seseorang melihat Allah secara sepenuhnya ataukah dengan cara tidak tampak jelas?
Dengan cara tidak tampak jelas, tetapi, pada saat yang sama, dengan terang yang sedemikian rupa sehingga ini cukup untuk menimbulkan kerinduan yang dahsyat.
Sesungguhnya, terang yang begitu gemilang dibandingkan dengan kegelapan dunia. Dan masih bukan apa-apa dibandingkan dengan terang seutuhnya yang jiwa akan ketahui ketika jiwa tersebut tiba di Surga. Disini kita bisa merujuk pada "pengalaman-pengalaman orang yang nyaris mati." Jiwa seseorang begitu tertariknya kepada terang ini sehingga sungguh merupakan suatu penderitaan baginya untuk kembali ke bumi ke dalam tubuhnya setelah pengalaman ini.
KEMURAHAN HATI MENEBUS SEJUMLAH DOSA-DOSA
Maria, dapatkan anda menceritakan kepada kami apa peran Bunda Maria terhadap jiwa-jiwa di Api Penyucian?
Dia sering datang untuk menghibur mereka dan untuk memberitahu mereka bahwa mereka telah banyak melakukan hal-hal baik. Dia memberi mereka semangat.
Apakah ada hari-hari tertentu dimana Bunda Maria membebaskan mereka?
Diantara semuanya, Hari Natal, Hari Semua Orang Kudus, Hari Jumat Agung, Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, dan Hari Raya Yesus Naik ke Surga.
Maria, mengapa seseorang masuk kedalam Api Penyucian? Dosa-dosa manakah yang paling membawa ke dalam Api Penyucian?
Dosa-dosa terhadap kemurahan hati, terhadap kasih kepada sesama, kebekuan hati, permusuhan, fitnah, pengrusakan nama baik seseorang - segala hal-hal semacam ini.
Mengatakan hal-hal yang buruk dan fitnah adalah diantara noda-noda yang terburuk yang membutuhkan pemurnian yang lama?
Ya.
Disini, Maria memberi sebuah contoh yang sungguh mengejutkan dia yang ingin saya ceritakan kepada anda.
Dia telah diminta untuk mencari tahu jikalah seorang wanita dan seorang pria berada di Api Penyucian.
Betapa terkejutnya mereka yang menanyakan hal tersebut, karena wanita tersebut telah berada di Surga sedangkan yang pria masih berada di Api Penyucian. Sesungguhnya, wanita ini meninggal ketika sedang menjalani aborsi, sementara sang pria seringkali pergi ke gereja dan tampaknya menjalani hidup dengan baik dan taat.
Jadi Maria mencari informasi lebih jauh, dan berpikir bahwa dia telah salah duga - tetapi, tidak, ternyata memang benar demikian adanya. Mereka berdua meninggal pada saat yang bersamaan, tetapi sang wanita sempat bertobat secara mendalam, dan sangat rendah hati, sementara sang pria seringkali mengkritik semua orang; dia selalu memprotes dan mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain. Inilah sebabnya mengapa dia berada lama di Api Penyucian. Dan Maria menyimpulkan: "Kita tidak bisa menilai dari penampilan."
Dosa-dosa lain terhadap kemurahan-hati adalah penolakan kita terhadap orang-orang tertentu yang tidak kita sukai, penolakan kita untuk berdamai, penolakan kita untuk memaafkan, dan segala kegetiran yang kita simpan dalam hati.
Maria juga menggambarkan poin ini dengan sebuah contoh yang lain untuk kita pikirkan. Ini kisah tentang seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita ini meninggal dan berada di Api Penyucian, di Api Penyucian yang paling mengerikan, dengan kesengsaraan yang paling hebat. Dan ketika dia datang untuk menemui Maria, dia menjelaskan mengapa sebabnya: dia mempunyai seorang teman wanita; diantara mereka muncul suatu permusuhan yang hebat, yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Dia telah memelihara permusuhan ini tahun demi tahun, meskipun sahabatnya telah berulang-kali meminta untuk berdamai, untuk kembali bersahabat. Tetapi setiap kali dia menolak. Ketika dia jatuh sakit parah, dia terus menutup hatinya, menolak berdamai yang ditawarkan oleh kawannya, sampai kematiannya. Saya percaya contoh ini adalah contoh yang penting mengenai kebencian yang dipelihara. Dan kata-kata kita sendiri juga, bisa merusak: kita tidak akan pernah bisa menekankan betapa suatu kata yang kritis atau pahit bisa sungguh-sungguh membunuh - tetapi juga, sebaliknya, betapa sebuah kata bisa menyembuhkan.
Maria, harap ceritakan kepada kami: siapakah orang-orang yang punya kesempatan terbesar untuk langsung masuk ke Surga?
Mereka yang mempunyai hati yang baik terhadap semua orang. Cintakasih menebus sejumlah besar dosa-dosa.
Ya, Santo Paulus sendiri mengatakan hal ini!
Apakah cara-cara yang bisa kita lakukan di dunia untuk menghindari Api Penyucian dan langsung masuk ke Surga?
Kita harus melakukan banyak hal bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian, oleh karena mereka menolong kita pada gilirannya. Kita harus memiliki banyak kerendahan hati; ini adalah senjata terbesar melawan kejahatan, melawan Yang Jahat. Kerendahan hati mengusir kejahatan.
Saya tidak bisa menghindar untuk menceritakan sebuah kesaksian yang sangat indah oleh Father Berlioux (yang menulis sebuah buku yang bagus tentang jiwa-jiwa di Api Penyucian), mengenai bantuan yang diberikan oleh jiwa-jiwa ini terhadap orang-orang yang membebaskan mereka melalui doa-doa dan pengorbanan mereka.
Dia mengisahkan tentang seorang yang membaktikan dirinya demi jiwa-jiwa yang malang, dimana dia telah mengkonsekrasikan hidupnya demi membantu membebaskan mereka.
"Pada saat menjelang ajalnya, wanita ini diserang dengan ganas oleh iblis yang melihat dia lepas dari cengkeramannya. Tampaknya seluruh jurang bersatu melawan dia, mengelilinginya dengan pasukan neraka.
Wanita yang menjelang ajal ini memberontak dengan susah payah untuk beberapa waktu ketika tiba-tiba dia melihat masuk kedalam apartmentnya sejumlah arwah-arwah tak dikenal yang bercahaya menyilaukan indah, yang membuat iblis melarikan diri dan, mendekati ranjang wanita tersebut, berbicara kepadanya dengan dukungan semangat surgawi dan penghiburan. Dengan tarikan nafasnya terakhir wanita itu bertanya, dengan penuh sukacita, dia menangis: 'Siapakah kalian? Siapakah kalian, oh, kalian yang sangat baik terhadap saya?'
"Para pengunjung yang baik hati tersebut menjawab: 'Kami adalah penghuni Surga, yang atas pertolonganmu telah dipimpin kedalam Kebahagian Surgawi. Dan kami pada gilirannya datang dengan penuh rasa terima kasih untuk menolong anda menyeberangi batas kekekalan dan menyelamatkan anda dari tempat yang sengsara ini untuk membawamu kedalam sukacita Kota yang Kudus.'
"Atas kata-kata tersebut, sebuah senyuman muncul pada wajah wanita yang sekarat tersebut, matanya menutup dan diapun tertidur dalam damai Tuhan Yesus. Jiwanya, murni seperti merpati, dipersembahkan kepada Raja segala raja, mendapat banyak pelindung dan pembela sebanyak jiwa-jiwa yang telah ia tolong dulunya, dan ia layak atas kemuliaan, ia masuk dengan kemenangan, ditengah-tengah sorak dan berkat dari mereka yang telah ia tolong bebaskan dari Api Penyucian. Semoga kita, suatu hari, mendapat kebahagiaan yang serupa."
Jiwa-jiwa yang dibebaskan atas pertolongan doa-doa kita sangat berterima kasih: mereka menolong kita dalam hidup kita; bisa kita rasakan. Saya dengan tegas merekomendasikan supaya anda mengalaminya sendiri! Mereka sungguh-sungguh menolong kita; mereka tahu kebutuhan-kebutuhan kita dan memintakan banyak rahmat bagi kita.
Maria, saya memikirkan tentang Pencuri yang Bertobat yang berada di sebelah Yesus di Salib. Saya sungguh ingin mengetahui apakah yang dilakukannya sehingga Yesus menjanjikannya bahwa hari itu juga seterusnya dia akan berada di dalam Kerajaan bersama Dia?
Pencuri itu dengan rendah hati menerima penderitaannya, mengatakan bahwa hal itu adil. Dan dia menyemangati pencuri yang satunya lagi untuk menerima penderitaannya juga. Dia takut akan Allah, yang berarti memiliki kerendahan hati.
Suatu contoh lain yang bagus dikisahkan oleh Maria Simma menunjukkan betapa sebuah tindakan yang baik menebus sebuah hidup yang penuh dosa. Mari dengarkan dari Maria sendiri:
"Saya kenal seorang lelaki muda yang kira-kira berumur 20 tahun, di desa yang berdekatan. Desa tempat tinggal orang ini telah ditimpa bencana serentetan tanah longsor yang telah membunuh sejumlah besar penduduk.
"Suatu malam, orang muda ini berada di rumah orang-tuanya ketika dia mendengar tanah longsor tepat di sebelah rumahnya. Dia mendengar jeritan-jeritan yang memekakkan, menyayat hati, 'Selamatkan kami! Datanglah, selamatkanlah kami! Kami terjebak di bawah longsoran ini!'
"Melompat, bangkitlah dia dari ranjangnya dan tergesa-gesa turun ke bawah untuk menyelamatkan orang-orang ini. Ibunya telah mendengar jeritan-jeritan tersebut dan mencegahnya untuk pergi; dia menghalang di depan pintu dan berkata 'Tidak! Biarkan orang-orang lain yang menolong mereka, jangan selalu kita! Terlalu berbahaya di luar, saya tidak ingin ada lagi yang meninggal!' Tetapi dia, karena telah terdorong oleh jeritan-jeritan ini, sungguh ingin menolong orang-orang tersebut; dia mendorong ibunya kesamping. Dia berkata: 'Ya! Saya pergi, saya tidak dapat membiarkan mereka mati seperti ini!' Dia keluar, dan lantas dia sendiri di tengah jalan, tertimbun tanah longsor dan mati terbunuh.
"Tiga hari setelah kematiannya, dia datang untuk mengunjungi saya, pada malam hari, dan dia berkata kepada saya: 'Rayakanlah tiga Misa Kudus untuk saya; olehnya, saya akan dibebaskan dari Api Penyucian.' Saya pergi untuk memberitahu sanak keluarga dan teman-temannya; mereka tercengang ketika mengetahui bahwa hanya setelah tiga kali Misa Kudus, dia akan dibebaskan dari Api Penyucian. Sahabat-sahabatnya berkata: 'Oh, saya tidak akan ingin untuk menjadi dirinya pada saat kematian, jika anda tahu hal-hal buruk yang telah dia lakukan selama ini!'
"Tetapi orang muda ini berkata kepada saya: 'Anda tahu, saya telah melakukan tindakan kasih yang tulus dengan membahayakan diri saya sendiri demi orang-orang tersebut; atas hal inilah Tuhan menerima saya begitu cepat kedalam SurgaNya. Ya, belaskasihan menebus sejumlah besar dosa-dosa...'"
Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa belaskasihan, satu tindakan kasih yang diberikan secara cuma-cuma, telah cukup untuk memurnikan jiwa orang muda ini dari kehidupan yang immoral; dan Tuhan Yesus telah mempergunakan sebaik-baiknya dari satu saat cintakasih tersebut. Maria bahkan menambahkan bahwa orang muda ini tidak akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk mempersembahkan tindakan kasih yang sedemikian besar, dan bisa bertambah buruk. Tuhan dalam belaskasihNya, mengambil nyawa orang tersebut ketika ia muncul di hadapan Allah pada kondisinya yang terbaik, terbersih, oleh karena tindakan kasih tersebut.
Sangat penting kiranya, pada saat menjelang ajal, untuk menyerahkan diri kepada kehendak Allah.
Maria mengatakan kepada saya tentang kasus seorang ibu atas empat anak yang menjelang ajal. Bukannya memberontak dan khawatir, dia berkata kepada Tuhan: "Saya menerima ajal, sepanjang itu adalah kehendakMu, dan saya akan menaruh nyawa saya ke dalam tanganMu. Saya mempercayakan anak-anak saya kepadaMu dan saya tahu bahwa Engkau akan menjaga mereka."
Maria berkata bahwa, karena kepercayaannya yang besar terhadap Tuhan, wanita ini langsung masuk ke Surga dan terhindar dari Api Penyucian.
Oleh karena itu, kita sungguh dapat mengatakan bahwa kasih, kerendahan hati, dan menurut pada kehendak Allah adalah tiga kunci emas untuk dapat langsung masuk ke Surga.
RAYAKAN MISA BAGI MEREKA
Maria, dapatkah anda sekarang memberitahukan kami cara-cara apa yang paling efektif untuk membantu membebaskan arwah-arwah dari Api Penyucian?
Cara yang paling efisien adalah melalui Misa Kudus
Mengapa Misa Kudus?
Karena itulah Yesus Kristus sendiri yang menawarkan diriNya karena kasih terhadap kita. Adalah kurban Yesus sendiri kepada Allah, kurban yang paling indah. Imam adalah wakil Allah, tetapi itulah Allah sendiri yang mempersembahkan diriNya sendiri dan mengurbankan diriNya sendiri bagi kita. Manfaat Misa bagi orang yang telah meninggal bahkan lebih besar bagi mereka yang sangat menghargai Misa Kudus selama hidup mereka. Jika mereka menghadiri Misa Kudus dan merayakan dengan segenap hati mereka, jika mereka pergi ke Misa harian - sesuai dengan waktu yang tersedia bagi mereka - mereka mendapatkan manfaat yang besar dari Misa-misa Kudus yang dirayakan bagi mereka. Disinipun, seseorang menuai apa yang telah mereka taburkan.
Arwah di Api Penyucian melihat dengan sangat jelas pada hari penguburannya jika kita sungguh-sungguh berdoa baginya atau jika kita hanya sekedar hadir untuk menunjukkan kita ada disana. Jiwa-jiwa yang malang berkata bahwa air mata tidak ada manfaatnya bagi mereka, hanya doa-doa. Seringkali mereka mengeluh bahwa orang-orang pergi ke pemakaman tanpa mengucapkan sepatah doapun kepada Tuhan, tetapi mengeluarkan banyak air mata; ini tiada manfaatnya!
Mengenai Misa Kudus, saya akan mengutip sebuah contoh yang indah oleh Santo John Mary Vianney (dikenal dengan julukan: Cure de Ars) kepada umat parokinya. Dia berkata:
"Anak-anakku, seorang imam yang baik bersedih kehilangan seorang kawan yang sangat dikasihinya, dan dia banyak berdoa demi peristirahatan jiwanya."Suatu hari, Allah menunjukkan kepadanya bahwa sahabatnya berada di Api Penyucian dan sangat menderita. Imam yang suci ini percaya bahwa dia tidak dapat melakukan yang lebih baik selain mempersembahkan Kurban Kudus dari Misa bagi sahabatnya yang baik yang telah meninggal. Pada saat konsekrasi, dia mengambil roti diantara jari-jarinya dan berkata 'Bapa Yang Kudus dan Kekal, marilah kita membuat suatu pertukaran. Engkau memegang nyawa sahabat saya yang berada di Api Penyucian, dan saya memegang Tubuh PuteraMu dalam tangan saya. Baiklah, Bapa yang baik dan penuh belas kasih, bebaskanlah sahabat saya dan saya mempersembahkan kepadaMu PuteraMu dengan segenap wafatNya dan SengsaraNya.'
"Permintaan itu dijawab. Sesungguhnya, pada saat ia mengangkat roti tersebut, dia melihat arwah sahabatnya, bersinar dalam kemuliaan, naik ke Surga; Tuhan telah menerima pertukaran tersebut.
"Anak-anakku, ketika kita ingin membebaskan dari Api Penyucian arwah orang yang kita kasihi, marilah kita lakukan hal yang sama: marilah kita persembahkan kepada Tuhan, melalui Kurban KudusNya, PuteraNya yang terkasih dengan segenap wafatNya dan SengsaraNya. Dia tidak akan menolak kita apapun."
JANGAN SIA-SIAKAN PENDERITAANMU DI DUNIA
Ada cara-cara lain, sangat bermanfaat, untuk menolong jiwa-jiwa yang malang: persembahan penderitaan-penderitaan kita, penitensi kita, seperti berpuasa, pengorbanan-pengorbanan pribadi lainnya - dan tentunya penderitaan yang tidak disengaja seperti penyakit.
Maria, anda telah seringkali diajak untuk menderita bagi jiwa-jiwa yang malang, demi untuk membebaskan mereka. Dapatkah anda ceritakan kepada kami apa yang telah anda alami dan lakukan selama saat-saat tersebut?
Pertama kalinya, satu arwah meminta saya jika saya tidak berkeberatan menderita secara fisik selama tiga jam bagi nya, dan bahwa setelah itu saya bisa kembali bekerja. Saya berkata kepada diri sendiri: "Jika itu berakhir setelah tiga jam, saya bisa menerimanya." Selama tiga jam tersebut, saya mendapat kesan bahwa rasanya seperti tiga hari, betapa sengsaranya. Tetapi pada akhirnya, saya melihat jam saya dan saya melihat bahwa hal itu cuma berlangsung selama tiga jam saja. Arwah wanita tersebut mengatakan bahwa dengan menerima penderitaan dengan penuh kasih selama tiga jam, saya telah menyelamatkan dia dari dua puluh tahun di Api Penyucian!
Ya, tetapi mengapa anda hanya menderita untuk tiga jam untuk menghindari dua puluh tahun Api Penyucian? Apa yang menyebabkan penderitaan anda sehingga bernilai lebih?
Karena penderitaan di bumi tidak sama nilainya. Di dunia, ketika kita menderita, kita bisa tumbuh dalam kasih, kita bisa mendapatkan manfaat, yang tidak sama dengan penderitaan di Api Penyucian. Di Api Penyucian, penderitaan cuma untuk memurnikan kita dari dosa. Di dunia, kita memiliki segala rahmat. Kita punya kebebasan untuk memilih.
Semua ini sungguh menimbulkan semangat karena memberikan arti yang luar biasa bagi penderita-penderitaan kita; penderitaan yang dipersembahkan, secara sengaja atau tidak disengaja, bahkan pengorbanan kecil yang kita buat, penderitaan maupun penyakit, kemalangan, kegagalan... jika kita menjalaninya dengan sabar, jika kita menerimanya dengan rendah hati, maka penderitaan-penderitaan ini dapat memiliki kuasa yang tidak diketahui sebelumnya, untuk menolong banyak jiwa.
Hal terbaik untuk dilakukan, Maria berkata, adalah mempersatukan penderitaan kita dengan sengsara Yesus, dengan menaruhnya ke dalam tangan Maria. Dia adalah satu-satunya yang tahu bagaimana menggunakannya secara terbaik, karena seringkali kita sendiri tidak mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang paling penting di sekeliling kita.
Segala ini, tentunya, Maria akan memberikan kembali kepada kita pada saat menjelang ajal.
Anda lihat, penderitaan-penderitaan yang dipersembahkan ini akan menjadi harta kita yang paling berharga di dunia yang akan datang. Kita harus saling mengingatkan satu sama lain tentang ini dan saling memberi semangat satu sama lain ketika kita menderita.
DAN JANGAN BERDOA DENGAN SETENGAH HATI
Salah satu cara lain yang efektif, Maria berkata, adalah dengan melakukan Perhentian Jalan Salib, karena dengan merenungkan sengsara Yesus, kita mulai sedikit demi sedikit membenci dosa, dan menginginkan keselamatan bagi semua orang. Dan kecenderungan hati ini membawa kelegaan besar kepada arwah-arwah di Api Penyucian.
Perhentian Jalan Salib juga membawa kita kepada pertobatan; kita mulai bertobat ketika menghadapi dosa.
Poin lainnya, sangat menolong jiwa-jiwa di Api Penyucian, adalah mengucapkan doa Rosario, seluruh 15 misteri/peristiwa, demi orang-orang yang sudah meninggal. Melalui rosario, banyak jiwa-jiwa dibebaskan dari Api Penyucian setiap tahunnya; harus disebutkan pula disini bahwa adalah Maria, Bunda Allah sendiri yang datang ke Api Penyucian untuk membebaskan jiwa-jiwa. Ini sangatlah indah karena jiwa-jiwa di Api Penyucian memanggil Bunda Maria dengan sebutan "Bunda Belaskasih."
Arwah-arwah juga memberitahu Maria bahwa indulgensi memiliki nilai yang tinggi bagi pembebasan mereka. Sungguh kejam untuk tidak menggunakan kekayaan ini yang direkomendasikan oleh Gereja bagi kebaikan jiwa-jiwa. Topik mengenai indulgensi akan terlalu panjang untuk dijelaskan disini, tetapi saya dapat merujuk pada naskah yang bagus yang ditulis oleh Paus Paulus VI di tahun 1968 tentang topik ini. Anda dapat bertanya kepada pastor paroki mengenainya, atau mencarinya di toko buku religius setempat.
Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa cara yang bagus untuk menolong arwah-arwah di Api Penyucian adalah pada umumnya berdoa; segala jenis doa. Saya ingin memberikan anda suatu kesaksian oleh Hermann Cohen, seorang seniman Yahudi yang menjadi Katolik pada tahun 1864 dan sangat menghormati Ekaristi. Dia meninggalkan kehidupan duniawi dan bergabung dengan suatu tarekat religius yang sangat ketat; dia sering melakukan adorasi terhadap Sakramen Mahakudus yang sangat ia hormati. Selama adorasi, dia memohon Tuhan Yesus agar meng-Katolik-an ibunya yang sangat dicintainya. Tetapi, ibunya meninggal tanpa pernah menjadi Katolik. Sehingga Hermann, yang sangat berduka, tersungkur di hadapan Sakramen Mahakudus, dengan kesedihan yang mendalam, dan berdoa: "Tuhan Yesus, aku berhutang segalanya kepadamu, memang benar demikian. Tetapi apa yang pernah aku tolak dariMu? Masa mudaku, harapan-harapanku di dunia, kesejahteraanku, kebahagiaan dari sebuah keluarga, istirahat - mungkin layak untuk didapat - semua dikorbankan segera setelah Engkau memanggil aku. Dan Engkau, ya Tuhan, Kebaikan Abadi, yang berjanji untuk memberikan seratus kali lipat, Engkau telah menolak jiwa ibuku. Ya Tuhanku, aku menyerah pada kemartiran ini, aku akan berhenti berkeluh-kesah." Dia menyerukan kemalangan hatinya. Sekonyong-konyong, suatu suara yang misterius terdengar olehnya:
"Manusia yang kecil imannya! Ibumu telah diselamatkan. Ketahuilah bahwa doa sangat besar kuasanya ketika Aku hadir. Aku menghimpun semua doa-doa yang telah engkau alamatkan kepadaKu demi untuk ibumu, dan Kasih Allah menghantarkannya pada saat menjelang ajalnya.
"Pada saat ajalnya, Aku datang kepadanya; ibumu melihat Aku dan berseru: 'Tuhanku ya Allahku!' Bersukacitalah, ibumu telah terhindar dari kutukan abadi dan puji syukur yang dipanjatkan dengan rajin akan segera membebaskan arwahnya dari belenggu Api Penyucian."
Dan kita tahu bahwa Father Hermann Cohen, segera setelah itu, mengetahui melalui penampakan yang kedua bahwa ibunya telah diangkat ke Surga.
Saya sangat merekomendasikan juga doa-doa Santa Bridget dari Swedia, yang paling direkomendasikan bagi jiwa-jiwa yang malang.
Bisa saya tambahkan satu hal penting: arwah-arwah di Api Penyucian tidak bisa lagi melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri; mereka sama sekali tergantung pada kita. Jika kita tidak berdoa bagi mereka, mereka sama sekali ditelantarkan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari kuasa yang sangat besar, kuasa luar biasa yang kita masing-masing miliki untuk membebaskan jiwa-jiwa yang menderita ini.
Kita tidak akan berpikir dua kali untuk menyelamatkan seorang anak yang jatuh dari pohon dan terluka. Tentunya kita akan melakukan apapun baginya. Jadi dengan cara yang sama, kita harus memberi perhatian yang besar kepada jiwa-jiwa ini, yang mengharapkan segalanya dari kita, bahkan pengorbanan yang terkecil sekalipun, berharap setidak-tidaknya doa-doa kita, untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan. Dan ini mungkin cara terbaik untuk belajar bermurah hati.
Saya berpikir, sebagai contohnya , tentang kebaikan hati Orang Samaria dalam kitab Injil, kepada lelaki yang tergeletak setengah mati di pinggir jalan karena luka-luka pendarahan pada tubuhnya. Lelaki ini bergantung total kepada kebaikan hati orang-orang yang lewat.
Maria, mengapa seseorang tidak lagi bisa mendapatkan upah di Api Penyucian seperti ketika masih di dunia?
Karena pada saat ajal, kesempatan untuk mendapatkan upah sudah selesai. Selama kita masih hidup di dunia, kita dapat memperbaiki keburukan yang telah kita lakukan. Arwah-arwah di Api Penyucian 'iri hati' atas kesempatan yang kita miliki ini. Bahkan para malaikatpun cemburu kepada kita, karena kita punya kesempatan untuk bertumbuh selama kita masih ada di dunia.
Tetapi seringkali penderitaan dalam hidup kita membawa pada pemberontakan (terhadap Tuhan) dan sangat sulit bagi kita untuk menerima dan menjalaninya. Bagaimana kita dapat menjalani penderitaan supaya lantas berbuah?
Penderitaan adalah bukti terbesar atas kasih Allah, dan jika kita mempersembahkannya dengan baik maka melalui penderitaan-penderitaan itu kita dapat memenangkan banyak jiwa-jiwa.
Tetapi bagaimana kita dapat menerima penderitaan sebagai suatu karunia dan bukan sebagai suatu hukuman (seperti seringkali demikian), atau sebagai pemurnian?
Kita harus memberikan segalanya kepada Bunda Maria. Dialah yang tahu terbaik siapa yang membutuhkan apa dan penderitaan apa demi untuk diselamatkan.
Tentang topik penderitaan, saya ingin menghubungkan dengan suatu kesaksian luar biasa yang diceritakan oleh Maria. Waktu itu tahun 1954, dan serentetan tanah longsor yang mematikan telah menimpa sebuah pedesaan yang berdekatan dengan desa tempat tinggal Maria. Berikutnya, berkali-kali bencana tanah longsor telah terjadi, tetapi longsoran itu telah berhenti di tengah jalan, dengan cara yang mukjijat, sebelum mencapai desa tersebut, sehingga tidak ada kerusakan.
Arwah-arwah menjelaskan bahwa di desa ini telah meninggal seorang wanita yang telah lama menderita sakit dan tidak mendapat perawatan yang semestinya; dia telah sangat menderita selama tiga puluh tahun. Dan dia telah mempersembahkan segala penderitaannya demi untuk desa tempat tinggalnya.
Arwah-arwah menjelaskan kepada Maria bahwa berkat kurban wanita ini sehingga pedesaan itu telah diselamatkan dari bencana tertimbun tanah longsor.
Dia telah menjalani penderitaannya dengan sabar. Maria berkata bahwa jika wanita itu sehat-sehat saja, desa tersebut tidak akan selamat. Dia menambahkan bahwa penderitaan yang dijalani dengan kesabaran dapat menyelamatkan lebih banyak jiwa-jiwa daripada doa (tetapi doa membantu kita tabah dalam penderitaan).
Kita semestinya tidak selalu menganggap penderitaan sebagai hukuman. Penderitaan dapat diterima sebagai penebusan dosa tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi terutama bagi orang lain. Yesus Kristus sama sekali tidak bersalah dan Dia yang paling menderita sebagai penebusan dosa-dosa kita.
Hanya di Surga kita akan mengetahui segala yang telah kita dapat melalui sabar menderita dalam persatuan dengan kesengsaraan Kristus.
Maria, apakah jiwa-jiwa di Api Penyucian memberontak ketika dihadapkan dengan penderitaan mereka?
Tidak! Mereka ingin menyucikan dirinya sendiri; mereka menyadari bahwa hal itu perlu.
PADA SAAT KEMATIAN
Apakah peran penyesalan atau pertobatan pada saat kematian?
Penyesalan sangat penting. Dosa-dosa diampuni, pada tiap kasus, tetapi akibat dari dosa-dosa tetap ada. Jika seseorang berkeinginan untuk menerima indulgensi penuh pada saat kematian - maksudnya langsung masuk ke sorga - arwahnya harus bebas dari segala keterikatan.
Disini saya ingin bercerita tentang suatu kesaksian yang sangat penting yang diberikan oleh Maria. Dia telah diminta untuk mencari tahu tentang seorang wanita yang dianggap kerabatnya telah masuk neraka, karena dia telah menjalani hidupnya dengan penuh dosa. Dia mendapat kecelakaan, jatuh dari kereta, dan meninggal karenanya. Arwah seseorang memberitahu Maria bahwa wanita ini telah diselamatkan, diselamatkan dari Neraka, karena pada saat kematiannya, dia berkata kepada Tuhan: "Engkau benar, dengan mengambil nyawaku, karena dengan demikian aku tidak lagi dapat menghinaMu." Dan ini menghapus segala dosa-dosanya. Contoh ini sangat menyolok, karena menunjukkan bahwa satu detik kerendahan hati, pertobatan pada saat kematian, bisa menyelamatkan kita. Ini tidak berarti bahwa dia tidak masuk ke dalam Api Penyucian, tetapi dia telah terhindar dari Neraka yang mungkin layak diterimanya karena kenajisannya.
Maria, saya ingin bertanya kepadamu: pada saat kematian, apakah ada waktu dimana jiwa masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, bahkan setelah kehidupan yang penuh dosa, sebelum masuk dalam keabadian - saat antara menjelang kematian dan kematian sebenarnya?
Ya, ya, Tuhan memberikan beberapa menit bagi tiap orang untuk menyesali dosa-dosanya dan memutuskan: saya menerima atau saya tidak menerima untuk menghadap Allah. Disana, kita melihat sebuah film dari kehidupan kita. Saya mengenal seorang pria yang percaya kepada ajaran-ajaran Gereja, tapi tidak terhadap kehidupan kekal. Suatu hari, dia sakit keras, dan menderita koma. Dia melihat dirinya sendiri dalam suatu ruangan dengan sebilah papan dimana semua perbuatan-perbuatannya dituliskan, baik yang baik maupun yang buruk. Lantas papan itu menghilang beserta dinding-dinding ruangan, dan betapa indahnya. Lantas dia terbangun dari koma dan memutuskan untuk merubah hidupnya.
Ini sangat mirip dengan kesaksian-kesaksian dari "pengalaman nyaris-mati"; pengalaman cahaya supernatural sedemikian sehingga orang-orang tersebut tidak dapat lagi hidup seperti gaya hidup mereka sebelumnya.
Maria, pada saat kematian, apakah Allah memperlihatkan diriNya dengan intensitas yang sama kepada semua jiwa-jiwa?
Masing-masing diberikan pengetahuan akan kehidupannya dan juga kesengsaraan-kesengsaraan yang akan datang; tetapi tidak sama bagi setiap orang. Intensitas penampakan Allah tergantung pada masing-masing hidup seseorang.
Maria, apakah iblis diperbolehkan untuk menyerang kita pada saat kematian?
Ya, tetapi manusia juga memiliki karunia untuk menolaknya, untuk mengusirnya pergi. Jadi, jika manusia tidak menginginkan apapun dari iblis, maka iblis tidak dapat melakukan apa-apa.
Itu berita yang bagus! Ketika seseorang menyadari bahwa dia akan segera meninggal, apakah cara terbaik baginya untuk bersiap-siap?
Menyerahkan dirinya secara total kepada Tuhan. Persembahkan segala kesengsaraannya. Bergembiralah sepenuhnya dalam Tuhan.
Dan sikap apa yang mesti kita miliki didepan seseorang yang akan segera meninggal? Apakah yang dapat dilakukan seseorang bagi orang tersebut?
Berdoalah dengan tekun! Persiapkanlah dia untuk kematian; seseorang harus mengatakan kebenaran.
Maria, nasihat apa yang anda berikan kepada siapapun yang ingin menjadi santa/santo di dunia ini?
Bersikap sangat rendah hati. Kita tidak boleh memikirkan diri kita sendiri semata-mata. Kesombongan adalah jebakan iblis yang terbesar.
Maria, harap beritahu kami: dapatkah seseorang meminta kepada Tuhan agar bisa menjalani Api Penyucian di dunia, agar tidak perlu lagi melaluinya setelah kematian?
Ya. Saya mengenal seorang imam dan seorang wanita muda yang keduanya menderita penyakit TBC dan dirawat di rumah sakit. Wanita muda itu berkata kepada sang imam: "Marilah minta kepada Tuhan agar dapat menderita di dunia sebanyak mungkin agar dapat langsung masuk ke Surga."
Sang imam menjawab bahwa dirinya sendiri tidak berani untuk memintanya. Di dekat mereka ada seorang Suster anggota tarekat yang mendengar segala percakapan tersebut. Sang wanita muda meninggal lebih dahulu, sang imam meninggal kemudian, dan arwah sang imam menampakkan diri kepada Suster tersebut sambil berkata: "Jika saja saya memiliki kepercayaan yang sama besar dengan wanita muda tersebut, saya juga pasti telah langsung masuk Surga."
Terima kasih, Maria, atas kesaksian yang indah ini.
Pada saat ini, Maria meminta untuk istirahat selama lima menit, karena dia harus pergi dan memberi makan ayam-ayamnya... Tetapi saat dia kembali, kami melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan kami.
PARA "PENGHUNI" API PENYUCIAN
Maria, apakah ada tingkat-tingkat yang berbeda di Api Penyucian?
Ya, ada perbedaan tingkat yang besar atas kesengsaraan moral. Setiap arwah punya kesengsaraan yang tersendiri; ada banyak tingkat-tingkat.
Apakah jiwa-jiwa yang malang ini tahu apa yang terjadi di dunia?
Ya, tidak segalanya, tetapi banyak hal.
Apakah arwah-arwah ini memberitahu anda apa yang akan terjadi, kadang-kadang?
Mereka hanya mengatakan bahwa "ada sesuatu di depan pintu", tetapi mereka tidak mengatakan apakah itu. Mereka hanya mengatakan apa yang perlu bagi pertobatan orang-orang.
Maria, apakah penderitaan di Api Penyucian lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang paling dahsyat dari penderitaan di dunia?
Ya, tetapi dengan cara yang simbolis. Lebih terasa menyakitkan di dalam jiwa.
Baiklah, saya rasa sangat sulit untuk dijelaskan... Apakah Yesus sendiri datang ke Api Penyucian?
Tidak satupun arwah pernah mengatakan demikian kepada saya. Adalah Bunda Maria yang datang. Suatu ketika saya menanyakan kepada satu arwah jika ia dapat pergi mencari arwah orang lain, dimana saya telah diminta untuk mencari tahu mengenainya. Arwah tersebut menjawab: "Bukan, adalah Bunda Belaskasih (Bunda Maria) yang memberitahu kami mengenainya."
Demikian juga, jiwa-jiwa di Surga tidak datang ke Api Penyucian. Di lain pihak, para malaikat berada disana: Santo Michael... dan setiap arwah memiliki malaikat pendamping bersamanya.
Fantastis! Para malaikat bersama kita... Tetapi apa yang mereka lakukan di Api Penyucian?
Mereka mengurangi kesengsaraan dan memberikan penghiburan. Para arwah bahkan dapat melihat mereka.
Luar biasa! Kalau ini berlangsung terus, Maria, anda hampir membuat saya ingin pergi ke Api Penyucian, dengan segala cerita-cerita mengenai malaikat! Pertanyaan lainnya: anda tahu, banyak orang masa kini percaya terhadap reinkarnasi. Apa yang diceritakan oleh arwah-arwah kepada anda tentang topik ini?
Para arwah mengatakan bahwa Allah hanya memberikan satu kali kehidupan.
Tetapi sementara orang akan berkarta bahwa satu kali hidup saja tidak cukup untuk mengenal Allah, dan untuk memiliki cukup waktu untuk sungguh bertobat, itu tidak adil. Apa jawaban anda terhadap mereka?
Semua orang memiliki iman interior (hati nurani); bahkan meskipun mereka tidak mempraktekkan, mereka mengakui Allah secara implisit. Seseorang yang tidak percaya - sungguh tidak ada! Setiap jiwa memiliki hati nurani untuk mengenali yang baik dan jahat, sebuah hati nurani yang diberikan oleh Allah, sebuah pengetahuan internal - dalam derajat-derajat yang berbeda, tentunya, tetapi masing-masing tahu untuk membedakan yang baik dari yang jahat. Dengan hati nurani ini, setiap jiwa dapat menjadi mulia.
Apa yang terjadi kepada orang-orang yang bunuh diri? Apakah anda pernah dikunjungi oleh orang-orang ini?
Sampai saat ini, saya tidak pernah menemui kasus bunuh diri yang masuk neraka - ini tidak berarti, tentunya, bahwa hal itu tidak terjadi - tetapi seringkali, arwah-arwah memberitahu saya bahwa pihak yang paling bersalah adalah mereka yang ada di sekeliling orang yang bunuh diri, ketika mereka tidak peduli atau menyebarkan fitnah.
Pada saat ini, saya menanyakan Maria jika arwah-arwah tersebut menyesal telah melakukan bunuh diri. Dia menjawab ya benar. Seringkali bunuh diri disebabkan karena suatu penyakit.
Para arwah tersebut menyesali perbuatan mereka karena, sebagaimana mereka melihat hal-hal dalam terang Allah, mereka mengerti dalam sekejap segala rahmat yang tersedia bagi mereka selama sisa hidup mereka di dunia - dan mereka sungguh melihat masa hidup ini yang tersisa bagi mereka, kadang-kadang berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun - dan mereka juga melihat semua orang-orang yang dapat mereka tolong dengan mempersembahkan sisa hidup mereka kepada Allah. Pada akhirnya, apa yang paling menyakiti mereka adalah melihat kebaikan yang tadinya dapat mereka lakukan tetapi tidak dilakukan karena mereka telah mengambil jalan pintas mengakhiri hidup mereka. Tetapi jika penyebabnya adalah penyakit, Tuhan mempertimbangkan hal ini tentunya.
Maria, apakah anda pernah dikunjungi oleh arwah-arwah yang "merusak diri sendiri", dengan obat-obat bius, overdosis, contohnya?
Ya, mereka tidak hilang. Semua tergantung kepada penyebab mengapa mereka memakai obat terlarang; tetapi mereka harus banyak menderita di Api Penyucian.
Jika saya berkata, misalnya, bahwa saya terlalu banyak menderita secara fisik, dalam hati saya, bahwa hal tersebut terlalu berat buat saya dan saya ingin mati saja, apa yang dapat saya lakukan?
Ya, hal seperti ini sangat sering. Saya akan mengatakan: "Ya Tuhanku, saya dapat mempersembahkan penderitaan-penderitaan ini untuk menyelamatkan jiwa-jiwa"; ini memberikan pembaruan iman dan ketabahan. Tetapi tidak seorangpun mengatakan demikian pada masa kini. Kita juga dapat berkata bahwa dalam melakukan hal ini, jiwa mendapat kemuliaan besar, suatu kebahagiaan besar bagi Surga. Di Surga, ada ribuan jenis-jenis kebahagiaan, tetapi masing-masing adalah kebahagiaan yang utuh; segala keinginan telah terpenuhi. Masing-masing jiwa mengetahui bahwa mereka telah menerima selayaknya.
Maria, saya ingin bertanya kepada anda: apakah orang-orang dari agama-agama lain - misalnya agama Yahudi - datang mengunjungi anda?
Ya, mereka berbahagia. Siapapun yang menjalani imannya dengan baik, berbahagia. Tetapi melalui iman Katolik kita mendapat bagian terbesar di Surga.
Apakah ada agama-agama yang ber-efek buruk bagi jiwa?
Tidak, tetapi ada begitu banyak agama-agama di dunia! Yang terdekat adalah Ortodoks dan Protestan; ada banyak orang Protestan yang mengucapkan doa Rosario; tetapi sekte-sekte adalah sangat, sangat jahat. Segala hal harus dilakukan demi untuk membawa orang-orang keluar dari sekte-sekte ini.
Apakah ada imam-imam di Api Penyucian?
(Saya melihat Maria mengarahkan pandang matanya ke Surga seolah-olah berkata: Oh!)
Ya, ada banyak dari mereka. Mereka tidak mendorong rasa hormat terhadap Ekaristi. Jadi iman ikut menderita. Mereka seringkali berada di Api Penyucian karena lalai untuk berdoa - yang telah menyebabkan berkurangnya iman mereka. Tetapi banyak juga yang telah langsung masuk ke Surga!
Apa yang ingin anda katakan, lantas, kepada seorang imam yang sungguh-sungguh ingin hidup sesuai dengan Kehendak Allah?
Saya akan menasehatinya untuk banyak berdoa kepada Roh Kudus - dan untuk mengucapkan doa Rosario setiap hari.
Maria, apakah ada anak-anak kecil di Api Penyucian?
Ya, tetapi Api Penyucian bagi mereka tidak lama ataupun menyakitkan, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang jahat.
Saya tahu bahwa anak-anak tertentu telah mengunjungi anda; anda menceritakan tentang kisah seorang anak kecil ini, yang termuda yang pernah anda lihat, seorang anak perempuan berumur empat tahun. Ceritakanlah kepada saya: mengapa gadis kecil ini berada di Api Penyucian?
Karena dia telah menerima sebagai hadiah Natal dari orang tuanya, sebuah boneka. Dia mempunyai saudara kembar yang juga menerima sebuah boneka. Gadis kecil berusia empat tahun ini telah membuat bonekanya rusak; dan dengan secara rahasia, tahu bahwa tidak seorangpun melihatnya, dia menukar boneka yang rusak tersebut dengan milik saudari kembarnya, dengan penuh kesadaran dalam hati kecilnya bahwa dia akan membuat saudarinya bersedih - dan dia juga sangat tahu bahwa perbuatannya adalah suatu kebohongan dan ketidak-adilan. Karena hal inilah, anak gadis yang malang ini harus melalui di Api Penyucian.
Sesungguhnya, anak-anak seringkali memliki hati nurani yang lebih halus dibandingkan orang dewasa. Sangat penting untuk bersama mereka melawan kebohongan. Mereka sangat sensitif terhadap ketidak-benaran.
Maria, bagaimana orang tua dapat membantu membentuk hati nurani anak-anak mereka?
Pertama melalui teladan baik - ini adalah yang terpenting. Kemudian melalui doa. Para orang tua harus memberkati anak-anak mereka dan mengajarkan mereka dengan baik tentang hal-hal yang menyangkut Tuhan.
Sangat penting! Apakah anda pernah dikunjungi oleh arwah-arwah yang, sewaktu hidup di dunia, mempraktekan perbuatan abnormal? Maksud saya, contohnya, mengenai penyimpangan seksual.
Ya, mereka tidak hilang, tetapi mereka harus banyak banyak menderita untuk dimurnikan. Contohnya, homoseksualitas, ini sungguh-sungguh datang dari Yang Jahat.
Nasehat apa yang anda berikan, kepada mereka yang terbelenggu homoseksualitas, dengan kecenderungan homoseks?
Banyak-banyaklah berdoa untuk mendapat kekuatan melawan kecenderungan ini. Mereka terutama mesti berdoa kepada Malaikat Agung Santo Mikael; dia adalah pejuang besar "par-excellence" melawan Yang Jahat.
Apakah sikap hati yang dapat membuat kita kehilangan jiwa kita selamanya, maksud saya masuk ke Neraka?
Ini adalah saat ketika jiwa tidak ingin pergi menuju Allah, ketika dia sungguh berkata: "Saya tidak mau."
Terima kasih, Maria, karena membuat jelas hal ini.
Sekarang saya ingin menyebutkan bahwa mengenai topik ini saya mewawancarai Vicka, salah satu visionari di Medjugorje, yang juga mengatakan kepada saya siapa yang masuk ke Neraka - dan dia telah melihat Neraka - adalah mereka sendiri yang memutuskan untuk pergi ke sana. Bukan Tuhan yang menaruh seseorang di Neraka - pada sebaliknya, Dia adalah Sang Penyelamat, Dia memohon agar jiwa menerima kerahimanNya. Dosa melawan Roh Kudus yang disebut oleh Yesus, yang tidak dapat dimaafkan, adalah penolakan absolut terhadap kerahiman, dan ini dengan penuh kesadaran, penuh hati nurani. Paus Yohanes Paulus II menjelaskan ini dengan sangat baik dalam ensiklikal mengenai kerahiman. Disini kita juga dapat berbuat banyak dengan doa-doa bagi jiwa-jiwa yang berada dalam bahaya hilang untuk selamanya.
Maria, apakah anda memiliki suatu kisah yang mengilustrasikan ini?
Suatu hari, saya berada di atas kereta dan di dalam ruangan saya ada seorang pria yang tidak henti-hentinya menjelek-jelekan Gereja Katolik, juga tentang para imam, bahkan tentang Tuhan. Saya berkata kepadanya: "Dengarkan, anda tidak berhak untuk mengatakan semua itu, itu tidak baik." Dia sangat marah pada saya. Setelah itu, saya tiba di stasiun, saya turun dari kereta dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, jangan biarkan jiwa orang ini hilang selamanya." Bertahun-tahun kemudian, arwah orang ini datang mengunjungi saya; dia mengisahkan bahwa dia nyaris saja masuk ke Neraka, tetapi dia telah diselamatkan semata-mata oleh doa singkat yang saya ucapkan pada waktu itu!
Ya, sungguh luar biasa untuk melihat bahwa hanya dengan satu pikiran, satu dorongan hati, satu doa sederhana bagi seseorang dapat menghindari mereka jatuh ke Neraka. Adalah kesombongan yang membawa ke Neraka. Neraka adalah berkeras kepala mengatakan "TIDAK" kepada Tuhan. Doa-doa kita bisa mendorong kerendahan hati pada diri orang yang menjelang ajal, sekejap kerendahan hati, betapapun kecilnya, yang dapat menolong mereka supaya terhindar dari Neraka.
Tetapi Maria, mencengangkan, pada saat yang bersamaan! Bagaimana seseorang bisa berkata "TIDAK" kepada Tuhan pada saat menjelang ajal, ketika seseorang melihat Dia?
Contohnya, seorang pria suatu ketika memberi tahu saya bahwa dia tidak ingin pergi ke Surga. Mengapa? Karena Tuhan memperbolehkan ketidakadilan. Saya berkata kepadanya bahwa manusia-lah penyebabnya, bukan Tuhan... Dia berkata: "Saya harap saya tidak ketemu Tuhan setelah saya meninggal, atau saya akan membunuhnya dengan sebilah kampak."
Pria ini memiliki kebencian yang mendalam terhadap Tuhan. Tuhan mengaruniakan kebebasan kepada manusia; Dia menginginkan masing-masing orang untuk bebas memilih.
Tuhan memberikan kepada setiap orang selama masa hidupnya di dunia, dan pada saat kematiannya, rahmat yang cukup untuk pertobatan, meskipun setelah menjalani kehidupan dalam kegelapan. Jika seseorang meminta ampun, dengan tulus hati, tentunya orang tersebut dapat diselamatkan.
Yesus berkata bahwa sulit bagi seorang yang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Apakah anda pernah melihat kasus demikian?
Ya! Tetapi jika mereka melakukan perbuatan-perbuatan baik, banyak berbuat amal, jika mereka mempraktekkan cintakasih, mereka bisa sampai ke Surga, seperti orang-orang miskin.
Maria, apakah anda masih mendapat kunjungan belakangan ini dari arwah-arwah di Api Penyucian?
Ya, dua sampai tiga kali dalam satu minggu.
Benarkah! Apa pendapat anda tentang praktek spiritisme, contohnya, memanggil roh-roh orang yang telah meninggal, Ouija-board [semacam jelangkung], dan lain-lain?
Tidak baik. Selalu bersifat iblis. Iblis-lah yang membuat papan itu bergerak.
Betapa penting untuk mengatakan hal ini berulang-ulang! Orang-orang perlu mendengar hal ini karena, pada masa kini, lebih daripada sebelumnya, praktek-praktek absurd ini meningkat secara pesat!
Apa perbedaannya antara apa yang anda alami sehubungan dengan arwah-arwah orang meninggal, dan praktek spiritisme?
Kita tidak boleh memanggil arwah-arwah - saya tidak berusaha memanggil mereka untuk datang. Dalam spiritisme orang-orang memanggil arwah untuk datang.
Perbedaan ini cukup jelas, dan kita harus menanggapinya secara serius. Jika orang-orang hanya percaya pada satu hal yang saya katakan, saya akan memilih berkata begini: mereka yang terlibat dalam spiritisme (papan yang bergerak, dan macam-macam praktek sejenisnya) berpikir bahwa mereka memanggil arwah-arwah orang yang telah meninggal. Pada realitasnya, jika ada semacam respon atas panggilan mereka, selalu dan tanpa pengecualian, Setan dan para malaikatnya yang menjawab. Orang-orang yang mempraktekkan spiritisme (sihir, santet, kebatinan dan lain-lain) melakukan sesuatu hal yang sangat berbahaya bagi diri mereka sendiri dan bagi mereka yang datang meminta nasehat. Mereka terbenam dalam kepalsuan. Dilarang, sangat dilarang, untuk memanggil arwah. Bagi saya sendiri, saya tidak pernah melakukan hal demikian, saya tidak melakukannya sekarang, dan saya tidak akan pernah melakukannya. Ketika sesuatu muncul di hadapan saya, hanya Allah yang mengijinkannya.
Tentunya, Setan dapat meniru apapun yang datang dari Allah, dan memang hal itu dilakukannya. Dia dapat meniru suara dan penampilan dari orang yang telah meninggal, tetapi setiap manifestasi dalam bentuk apapun selalu datang dari Yang Jahat. Jangan lupakan bahwa Setan bahkan juga dapat menyembuhkan, tetapi penyembuhan demikian tidak pernah bertahan.
Pernahkah anda pribadi ditipu oleh penampakan-penampakan palsu? Contohnya, oleh iblis yang menyaru sebagai arwah di Api Penyucian untuk berbicara kepada anda?
Ya. Suatu ketika satu arwah datang kepada saya dan berkata: "Jangan menerima arwah yang akan datang setelah saya, karena dia akan memintamu untuk terlalu banyak menderita, dan kamu tidak akan bisa menanggungnya; kamu tidak dapat melakukan apa yang akan dimintanya."
Jadi, saya bersusah hati karena saya teringat apa yang pastor paroki katakan kepada saya, bahwa saya harus menerima setiap arwah dengan murah hati, dan saya sungguh bersusah hati apakah patuh atau tidak. Jadi saya berkata kepada diri sendiri: "Mungkin ini iblis yang berada di hadapan saya dan bukan arwah di Api Penyucian; iblis yang menyamar?" Saya berkata kepada roh ini: "Jika engkau iblis, enyahlah!"
Seketika itu dia mengeluarkan teriakan yang nyaring dan pergi. Sesungguhnya, arwah yang datang setelah iblis tersebut sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan saya; sangat penting bagi saya untuk mendengarkan arwah ini!
Ketika iblis muncul, apakah air suci selalu membuatnya pergi?
Air suci sangat mengganggunya dan dia lenyap seketika.
Maria, anda sekarang sangat terkenal, terutama di Jerman dan Austria, tetapi juga di seluruh penjuru Eropa, berkat pembicaraan dan buku anda. Pada awal mulanya, anda sangat tersembunyi. Bagaimana hal ini terjadi, semalaman, orang-orang mengakui bahwa pengalaman supernatural anda otentik?
Ketika arwah-arwah meminta saya untuk memberitahukan kepada keluarga mereka untuk mengembalikan barang-barang yang didapat secara tidak jujur. Mereka melihat bahwa apa yang saya katakan benar adanya.
Pada saat ini, Maria menghubungan beberapa kesaksian, terlalu panjang untuk dikutip disini. Banyak kali arwah-arwah pergi mencari dia, dan berkata: "Pergilah kepada keluarga saya di desa anu" - yang tidak diketahui oleh Maria - "dan katakan kepada bapa, putra, kakak saya untuk mengembalikan barang-barang tertentu ataupun sejumlah uang yang saya dapat secara tidak jujur. Saya akan dibebaskan dari Api Penyucian ketika barang-barang ini dikembalikan kepada yang empunya." Maria akan mendapat penjelasan yang seksama tentang jumlah uang tepatnya ataupun barang-barang yang bersangkutan, dan keluarga tersebut akan tercengang setelah menemukan bahwa Maria tahu segala hal secara mendetil, karena kadang-kadang bahkan mereka sendiri tidak tahu bahwa barang-barang ini telah didapat secara tidak jujur oleh kerabat mereka. Melalui hal-hal seperti ini, Maria mulai menjadi sangat terkenal.
Maria, apakah ada pengakuan resmi dari Gereja atas karisma ini yang anda jalankan demi arwah-arwah di Api Penyucian, dan juga demi mereka yang tersentuh oleh kerasulan anda?
Uskup saya berkata selama tidak ada kesalahan teologis, saya boleh teruskan: dia telah menyetujuinya. Pastor paroki saya, yang juga merupakan pembimbing spiritual saya, menguatkan hal-hal ini juga.
Saya ingin mengajukan suatu pertanyaan yang mungkin tidak layak: anda telah melakukan banyak hal bagi jiwa-jiwa yang malang yang tentunya, pada waktu anda meninggal, pada gilirannya, ribuan arwah-arwah akan mendampingi anda ke Surga; Saya pikir anda pasti tidak harus melalui Api Penyucian!
Saya tidak percaya saya akan langsung masuk Surga tanpa menunggu di Api Penyucian karena asya memiliki lebih banyak penerangan, lebih banyak pengetahuan, dan oleh karenanya kesalahan-kesalahan saya juga lebih serius. Tetapi pada saat yang sama, saya berharap supaya arwah-arwah membantu saya naik ke Surga!
Pasti demikian! Dan Maria, apakah anda menyukai karisma ini? Ataukah hal itu merupakan sesuatu beban dan menyulitkan bagi anda, segala macam permintaan-permintaan dari para arwah?
Tidak, saya tidak menaruh banyak perhatian kepada kesulitannya, karena saya tahu saya dapat banyak menolong mereka. Saya dapat menolong banyak jiwa-jiwa dan saya sangat gembira untuk melakukannya.
Maria, saya ingin berterima kasih kepada anda juga atas nama semua pembaca dari kesaksian yang indah ini. Tetapi harap ijinkan saya satu pertanyaan terakhir: supaya kami mengenal anda dengan lebih baik, maukah anda berbaik hati untuk menceritakan beberapa patah kata tentang kehidupan anda?
Baiklah... sejak ketika saya masih kecil saya ingin masuk ke biara, tetapi Ibu bilang agar saya menunggu sampai usia dua puluh tahun. Saya tidak ingin menikah. Ibu telah banyak bercerita tentang jiwa-jiwa di Api Penyucian dan, sejak di sekolah, arwah-arwah ini telah banyak membantu saya. Jadi saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya harus melakukan segalanya bagi mereka.
Setelah tamat sekolah, saya berpikir ingin masuk ke biara; Saya bergabung dengan Suster-suster dari Hati Yesus, tetapi mereka mengatakan kepada saya bahwa kesehatan saya sangat buruk untuk tetap bersama mereka. Sewaktu masih anak-anak, saya telah menderita radang paru-paru dan pleurisy [pembengkakan selaput paru-paru]. Ibu kepala biara telah menguatkan panggilan religius saya, tetapi menasehati saya untuk bergabung dengan tarekat yang lebih ringan, atau menunggu beberapa tahun. Saya menginginkan diatas segalanya sebuah tarekat rubiah [yang tertutup bagi kaum awam] dan sesegera mungkin!
Tetapi setelah berusaha dua kali lagi, kesimpulannya sama: kesehatan saya terlalu buruk. Jadi saya berkata kepada diri saya bahwa memasuki suatu biara bukan kehendak Allah bagi saya. Saya sangat menderita secara mental. Saya berkata kepada diri saya bahwa Tuhan belum menunjukkan saya apa yang diinginkanNya dari saya.
Sampai saat itu Dia telah mempercayakan saya dengan tugas ini bagi arwah-arwah di Api Penyucian, pada umur dua puluh lima, Dia telah membuat saya menunggu delapan tahun.
Di rumah, kami anak-anak berdelapan. Saya bekerja di ladang, mulai umur lima belas tahun; lantas saya pergi ke Jerman bekerja sebagai pelayan di suatu keluarga petani. Setelah itu, saya bekerja disini di ladang di Sonntag.
Sejak umur dua puluh lima tahun, ketika arwah-arwah mulai berdatangan, saya banyak banyak menderita bagi mereka - Sekarang saya lebih baik secara fisik. Lantas, anda datang kesini...
Sungguh suatu pengalaman yang mengasikkan bagi saya untuk menemui Maria Simma, seorang wanita yang hidupnya adalah suatu devosi yang seutuhnya. Setiap detik, setiap jam dari hidupnya punya tanggung jawab kekekalan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi begitu banyak jiwa-jiwa, yang dikenal maupun yang tidak dikenal, yang dengan banyak cara yang berbeda dan dengan banyak cintakasih dia menolong membebaskan mereka dari Api Penyucian dan menikmati sukacita yang kekal di Surga.
Sebuah Ajakan Bagi Semua
Sekarang, saya punya suatu ajaran kepada anda masing-masing: kita bisa membuat keputusan supaya tidak satupun dari kita harus masuk ke Api Penyucian!
Ini sungguh suatu hal yang mungkin, kita punya segalanya pada tangan kita untuk membuatnya menjadi kenyataan. Saya ingat kata-kata Santo Yohanes dari Salib: dia berkata bahwa Kasih Allah memberikan kepada setiap kehidupan, pemurnian yang diperlukan untuk membolehkan kita langsung masuk ke Surga pada saat ajal.
Allah memberikan cukup banyak kesulitan-kesulitan dalam hidup kita, tantangan-tantangan, penderitaan, penyakit, beban-beban - sehingga segala pemurnian ini, jika kita menerimanya, mungkin cukup untuk membawa kita langsung ke Surga.
Mengapa hal ini tidak terjadi? Karena kita memberontak, kita tidak menerima dengan kasih, dengan syukur, karunia cobaan-cobaan dalam hidup kita ini, dan kita berdosa karena melawan, karena tidak menurut.
Jadi mari kita minta kepada Tuhan bagi rahmat untuk mengambil setiap kesempatan sehingga pada saat kita meninggal Dia melihat kita bercahaya gemilang oleh kemurnian dan keindahan.
Tentunya jika kita memutuskan untuk menerimanya, saya tidak mengatakan bahwa jalannya akan mudah, karena - ingatlah akan hal ini - Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa jalannya akan mudah tetapi jalan kita akan berada dalam damai, dan akan menjadi jalan kebahagiaan: Tuhan beserta kita! Diatas semuanya - dan saya ingin menekankan hal ini disini - marilah kita menggunakan waktu kita sebaik-baiknya yang tersisa di dunia, masa ini yang begitu berharga, dimana selama itu kita masih punya kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih. Ini berarti untuk bertumbuh menuju Kemuliaan yang akan datang dan keindahan yang menjadi takdir kita. Setiap menit, kita masih dapat tumbuh dalam kasih, tetapi arwah-arwah di Api Penyucian tidak dapat lagi bertumbuh.
Bahkan para malaikat pun menginginkan kuasa ini yang kita miliki untuk tumbuh setiap menit dalam kasih sementara kita masih berada di dunia.
Setiap tindakan kasih yang kecil sekalipun kita persembahkan kepada Tuhan, setiap pengorbanan kecil maupun puasa, setiap penyangkalan kecil maupun perjuangan untuk melawan kecenderungan hawa nafsu kita, kesalahan-kesalahan kita, setiap pengampunan bagi musuh-musuh kita, segala hal semacam ini yang dapat kita persembahkan, yang nantinya akan menjadi bagi kita suatu ornamen, suatu permata, harta sejati yang kekal.
Jadi, mari kita ambil setiap kesempatan untuk menjadi seindah yang Tuhan inginkan dari kita dalam nubuatnya. Jika kita melihat dengan jelas kemuliaan dari suatu jiwa yang murni, atau suatu jiwa yang dimurnikan, maka kita akan berseru dengan sukacita dan kekaguman, karena keindahannya!
Jiwa seorang manusia adalah sesuatu yang memiliki kemuliaan besar dihadapan Allah; inilah mengapa Allah menginginkan kita untuk menjadi murni secara sempurna. Bukan melalui bebas dari kesalahan sehingga kita menjadi murni. Tidak, tetapi melalui pertobatan kita akan dosa-dosa kita, dan kerendahan hati kita. Anda lihat, cukup nyata bedanya! Para kudus bukanlah jiwa-jiwa yang bebas dari kesalahan, tetapi mereka yang bangkit berulang-ulang setiap kali mereka jatuh, dan memohon pengampunan; sangat berbeda. Jadi mari kita memanfaatkan fasilitas indah yang diberikan Tuhan kepada kita untuk membantu jiwa-jiwa yang masih menanti untuk menginginkan Allah dan yang merindukan karena penundaan ini, karena Tuhan yang mulia yang telah mereka lihat dan yang mereka inginkan dengan segenap hati mereka.
Juga, jangan kita lupakan bahwa doa anak-anak memiliki kuasa yang sangat besar kepada Tuhan. Jadi, marilah ajari anak-anak kita untuk berdoa. Saya teringat seorang gadis kecil yang telah saya ceritakan tentang jiwa-jiwa yang malang. Saya berkata kepadanya: "Sekarang, kamu akan berdoa bagi jiwa-jiwa semua anggota-anggota keluargamu dan teman-teman yang telah meninggal. Maukah kamu pergi ke hadapan Yesus dan memohon kepadaNya?"
Dia pergi kepada Yesus dan lima menit kemudian dia kembali, dan saya bertanya kepadanya: "Apa yang kamu minta dari Tuhan?"
Dia menjawab: "Saya meminta Tuhan untuk membebaskan semua jiwa-jiwa di Api Penyucian!"
Jawaban ini mengejutkan saya dan saya menyadari bahwa saya telah bersikap pelit dalam permintaan saya, tetapi dia telah langsung mengerti apa yang harus dimintakan. Anak-anak begitu perasa, mereka bisa mendapatkan begitu banyak dari kemurahan Tuhan.
Juga, mari sebutkan disini orang-orang yang telah pensiun dan semua yang memiliki waktu luang; jika mereka sering menghadiri Misa harian... Harta karunia apakah yang bisa mereka timbun, bukan hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi anggota keluarga mereka yang telah meninggal dan bagi ribuan jiwa-jiwa!
Nilai dari satu Misa Kudus saja tidak terukur. Jika kita dapat menyadarinya!...
Betapa suatu kekayaan yang oleh ketidakpedulian kita, atau semata-mata kemalasan kita, terbuang cuma-cuma!
Dimana kita memiliki kuasa untuk menyalamatkan kakak atau adik kita, dengan mengambil bagian dalam penebusan, bersama-sama dengan Yesus, Sang Penyelamat dan Penebus kita!
Jangan Lupakan Indulgensi
Bunda Gereja memiliki beberapa harta karun yang bagus bagi kita - mari kita lihat beberapa diantaranya dengan seksama!
"Melalui indulgensi umat bisa mendapatkan remisi atas hukuman sementara yang diakibatkan oleh dosa-dosa, bagi diri mereka sendiri dan juga bagi arwah-arwah di Api Penyucian"
(Katekismus Gereja Katolik nomor 1498)
Apakah yang dimaksud dengan indulgensi? Ini adalah apa yang ditulis dalam buku Katekismus Gereja Katolik:
"Suatu indulgensi adalah remisi di hadapan Allah atas hukuman sementara yang diakibatkan oleh dosa-dosa yang kesalahannya telah diampuni, yang didapat oleh umat Kristen dalam kondisi-kondisi tertentu melalui tindakan Gereja yang, sebagai pelayan penebusan, memberikan dan memakai dengan kuasa, harta karun dari pemenuhan Kristus dan para kudus."
"Sebuah indulgensi adalah sebagian atau penuh sesuai dengan apakah indulgensi tersebut menghapuskan sebagian atau segenap hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa." Indulgensi bisa dikenakan kepada orang hidup maupun orang yang sudah meninggal."
(Katekismus Gereja Katolik nomor 1471)
Yesus memberikan kepada para murid-muridNya, dan oleh karena itu kepada Gereja Katolik, kuasa untuk mengikat dan melepaskan, dan sepanjang berabad-abad, dalam berbagai cara, Gereja telah menggunakan saluran belas kasih Allah ini kepada orang hidup dan mati.
Segala hal menyangkut indulgensi direvisi oleh Paus Paulus VI; hasil-hasilnya dapat ditemukan dalam buku The Book of Indulgences, Aturan dan Pemberian, dipublikasikan 29 Juni 1968 oleh Vatican Publishers.
"Sasaran yang dituju oleh otoritas gereja dalam memberikan indulgensi tidak hanya untuk membantu umat menghapuskan hukuman atas dosa, tetapi juga untuk mendorong mereka untuk melakukan tindakan-tindakan baik, penitensi, dan tindakan amal - terutama yang membawa pada pertumbuhan iman dan yang cenderung pada kebaikan bersama."
"Dan jika umat menawarkan indulgensi sebagai penebusan bagi orang yang sudah meninggal, mereka menanamkan amal baik dengan cara yang bagus dan sementara mengangkat pikiran mereka ke surga mereka membawa kondisi yang lebih baik bagi hal-hal di dunia ini."
"Meskipun indulgensi sesungguhnya adalah karunia cuma-cuma, betapapun indulgensi diberikan kepada yang masih hidup maupun yang sudah meninggal hanya pada kondisi-kondisi yang telah ditentukan...umat bersangkutan harus mengasihi Allah, menghindari dosa, menaruh kepercayaan kepada Kristus dan percaya dengan teguh kepada bantuan besar yang mereka dapat dari persekutuan para kudus."
Sebagai hasil dari revisi, segala perbedaan atas hari, bulan, dan tahun telah dihapuskan; satu-satunya perbedaan yang tetap dipertahankan adalah antara indulgensi penuh dan sebagian. Kita juga mesti mengingat yang berikut ini:
Tidak seorangpun dapat memberikan indulgensi yang didapatnya kepada orang lain yang masih hidiup
Baik indulgensi penuh maupun sebagian selalu dapat diberikan kepada orang yang telah meninggal.
"Umat yang menggunakan dengan devosi, suatu benda religius (salib, kayu salib, rosario, skapulir, atau medali) yang diberkati dengan selayaknya oleh seorang imam, bisa mendapatkan indulgensi sebagian. Tetapi jika obyek ini diberkati oleh Sri Paus ataupun seorang uskup, umat yang menggunakan obyek tersebut bisa mendapatkan indulgensi penuh pada pesta perayaan Rasul Suci Petrus dan Paulus, jika mereka juga membacakan pernyataan iman (kredo) menggunakan formula yang diakui Gereja."
Di Medjugorje, pada tanggal 18 Juli 1995, Bunda Maria berkata:
"Anak-anak yang baik, hari ini Aku memanggil kalian untuk menempatkan benda-benda yang telah diberkati di rumah-rumah kalian dan mengajak setiap orang untuk mengenakan benda yang telah diberkati. Berkatilah segala obyek, dan demikian serangan Setan akan berkurang karena kalian memiliki perisai untuk melawannya."
"Untuk mendapatkan indulgensi penuh perlu untuk melakukan tindakan yang diperlukan oleh indulgensi tersebut dan untuk memenuhi tiga syarat: sakramen pengakuan dosa, Komuni Ekaristi dan doa bagi intensi-intensi Sri Paus. Lebih jauh lagi diperlukan bahwa segala keterikatan dengan dosa, bahkan dosa-dosa ringan, ditiadakan."
Syarat berdoa bagi intensi-intensi Sri Paus dapat dipenuhi dengan mengucapkan satu doa Bapa Kami dan satu kali Salam Maria. Betapapun, masing-masing umat individual bebas mengucapkan doa-doa lain sesuai dengan ketaatan dan devosi mereka kepada Sri Paus.
Revisi baru memberikan tiga konsesi:
1. Indulgensi sebagian diberikan kepada umat yang, dalam memenuhi kewajiban mereka dan dalam menghadapi tantangan hidup, mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan dengan keyakinan dan kerendahan hati, dan menambahkan dalam hati mereka panggilan yang khidmat.
2. Indulgensi sebagian diberikan kepada umat yang, dengan jiwa penuh oleh iman dan belaskasihan, memberikan diri mereka sendiri ataupun harta milik mereka bagi saudara-saudara mereka yang membutuhkan.
3. Indulgensi sebagian diberikan kepada umat yang, dengan semangat pertobatan, menjauhkan diri mereka dari sesuatu hal secara spontan (=berpuasa dan berpantang).
Indulgensi penuh bisa diperoleh pada peristiwa-peristiwa berikut ini:
Adorasi kepada Sakramen Mahakudus setidaknya setengah jam
Mengucapkan doa Rosario di gereja, dalam satu keluarga atau dalam suatu komunitas
Menjalankan Perhentian-perhentian Jalan Salib
Membaca Kitab Suci setidaknya setengah jam
Kunjungan ke gereja antara tanggal 1 November tengah hari sampai tanggal 2 November tengah malam, bagi intensi orang-orang yang telah meninggal
Mengunjungi kuburan, bagi intensi mereka yang telah meninggal
Mengambil bagian dalam perayaan Komuni Suci Pertama, atau Misa pertama seorang imam, atau perayaan 25, 50 atau 60 tahun menjadi imam
Pembaruan janji-janji baptis selama Minggu Paskah
Adorasi kepada Salib selama liturgi Jumat Agung
Benediksi oleh Sri Paus, bahkan ketika didengarkan melalui radio atau menonton lewat televisi
Dengan menerimakan sakramen Pengakuan Dosa secara teratur, seseorang bisa mendapatkan banyak indulgensi penuh.
Hanya satu indulgensi penuh perhari diperbolehkan, tetapi seseorang bisa mendapatkan sejumlah indulgensi sebagian dengan mengucapkan doa-doa tertentu yang dianjurkan oleh Gereja, seperti:
Angelus Domini
Kredo Para Rasul
Mazmur 130 (De Profundis)
Litani Nama Kudus Yesus
Litani Hati Kudus Yesus
Litani Santa Perawan Maria
Litani Santo Yusuf
Litani Para Kudus
Magnificat
Mazmur 51 (Miserere)
Doa bagi panggilan religius atau imam
Doa persatuan umat Kristen
Salve Regina (Salam, Ratu Surga)
Membuat tanda salib (dilakukan secara khidmat)
Tantum Ergo
Te Deum
Veni Creator (Datanglah Roh Kudus)
Daftar ini bukan daftar lengkap. Silakan minta petunjuk pastor paroki.
Indulgensi sebagian didapat melalui tindakan konkrit dari iman, harapan dan kasih, di tengah-tengah tantangan-tantangan hidup dan sebagaimana kita menjalani kewajiban-kewajiban hidup kita sehari-hari. Indulgensi juga didapat melalui tindakan amal kepada sesama kita, berpuasa dan pantang, dan doa-doa dan pikiran-pikiran spontan yang diajukan kepada Allah, kepada Bunda Maria, kepada Keluarga Kudus. Buku The Book of Indulgence mengandung satu daftar doa-doa yang direkomendasikan; suatu buku yang sangat bermanfaat - bacalah!
Ya, Hati Kudus Yesus
Berikanlah aku selalu rahmat untuk hidup sesuai dengan kehendakMu, sebagaimana pada saat terbaik, paling berbahagia, paling penting dalam hidupku, begitu juga pada saat-saat sulit.
Berikanlah selalu agar aku siap untuk saat-saat terakhir; berikanlah aku ketabahan untuk memberikan segalanya bagi kasihMu, bahkan hidupku, jika diperlukan.
Yesus, melalui SengsaraMu yang maha Kudus, semoga saat Engkau datang pada saat kematianku dan menemukanku terjaga, seperti hamba yang baik, dengan penyesalan yang tulus, pengakuan yang baik, diperkuat oleh sakramen-sakramen terakhir.
Tuhan, jangan meninggalkan aku pada pergulatan terakhir di dunia ini, ketika aku harus bertempur melawan Setan, mungkin dalam api yang menyala-nyala. Semoga BundaMu yang Suci, Bunda Belaskasih, dan Santo Mikael dan segenap para malaikat, menolong dan melindungi aku dari segala cobaan pada saat aku meninggalkan dunia ini. Semoga mereka menguatkan aku dan menghiburku dalam segala penderitaanku.
Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, pada saat itu, iman yang hidup, kepercayaan yang teguh, kasih yang membara dan kesabaran yang besar.
Tolonglah aku untuk membaktikan diriku sepenuhnya, dengan segala pikiran jernih, kedalam tanganMu dan untuk meninggalkan diriku sendiri seperti seorang anak kecil kepada tempatMu yang kudus.
Dalam kebaikanMu yang tanpa batas dan belaskasihMu yang besar, ya Yesus, ingatlah akan daku! Amin.
--------------------------------------------------------------------------------
Disadur dari buku "The Amazing Secret of the Souls in Purgatory"
diterjemahkan oleh Jeffry Komala
APA ITU INDULGENSI?Indulgensi adalah harta pusaka surgawi yang istimewa yang dianugerahkan Gereja kepada kita untuk melunasi hutang dosa kita kepada Tuhan serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa.
Tuhan memberikan wewenang kepada Gereja untuk memberikan indulgensi atas perbuatan-perbuatan atau doa-doa tertentu, sehingga ketika kita melakukan perbuatan atau doa tersebut, kita boleh memperoleh indulgensi.
Meskipun indulgensi tidak dapat dipergunakan untuk orang lain yang masih hidup (mereka harus memperoleh indulgensinya sendiri!), kita dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian agar lebih cepat tiba di surga dengan mempergunakan indulgensi yang kita terima untuk membantu mereka melunasi hutang dosa mereka kepada Tuhan.
MENGAPA KITA MEMERLUKAN INDULGENSI?
Kamu mungkin berpikir, “Tetapi, bukankah saya sudah menerima Sakramen Tobat dan Tuhan sudah mengampuni dosa-dosa saya! Mengapa saya masih memiliki “hutang” kepada Tuhan?”
Frank Sheed, seorang pengkhotbah Katolik dari Inggris yang terkenal, menjawabnya demikian: Dosa adalah seperti menancapkan sebuah paku pada sepotong kayu. Ketika kamu mengakukan dosa-dosamu pada imam, dan Tuhan mengampunimu, sama halnya seperti mencabut paku dari kayu tersebut. Paku sudah tidak ada lagi, tetapi lubang yang ditimbulkannya tetap ada dan harus diperbaiki. Dengan berdosa kita telah melukai jiwa kita dan sekarang kita harus memulihkan kembali luka-luka itu.
Karena Dosa Asal (dosa ketidaktaatan Adam dan Hawa di taman Eden), manusia cenderung berbuat dosa daripada melakukan yang baik. Setiap dosa melukai jiwa kita dengan membuatnya lebih sulit untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa yang sama di waktu mendatang. Bahkan setelah kita bertobat, kita masih harus mengatasi kecenderungan ini dengan penitensi. Para kudus memahami hal ini dengan baik sekali; mereka seringkali melakukan matiraga atau silih agar dapat lebih menguasai keinginan-keinginan mereka.
Namun demikian, karena kita tidak dapat melihat luka yang diakibatkan oleh dosa pada jiwa kita, kita seringkali tidak cukup menyesali dosa-dosa kita itu; kita lupa untuk berdoa serta lupa melakukan silih. Karenanya, jiwa kita harus dibersihkan, baik dalam masa kita hidup di dunia melalui berbagai pencobaan, atau kelak - sesudah kita meninggal - di api penyucian. Tuhan, melalui gereja-Nya, menyediakan bagi kita suatu “bonus” bagi doa dan silih yang kita lakukan, yaitu indulgensi. Jika kita melakukan suatu perbuatan atau mendaraskan suatu doa yang dinyatakan oleh Gereja dapat mendatangkan indulgensi (misalnya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, mendaraskan doa Rosario dll), Gereja mempergunakan harta pusaka-Nya berupa jasa-jasa Kristus untuk “menebus” sebagian atau seluruh hutang dosa kita kepada Tuhan serta menyucikan jiwa kita bagi kita, selama kita mempunyai niat untuk memperoleh indulgensi.
Seorang biarawati dalam biara St. Theresia dari Avila, menyadari pentingnya indulgensi dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk memperolehnya. Ketika biarawati itu meninggal, St. Theresia sangat terkejut melihat jiwa biarawati tersebut langsung naik menuju surga tanpa melalui api penyucian! Karena biarawati tersebut tampaknya biasa-biasa saja, St. Theresia bertanya kepada Yesus apa sebabnya jiwa biarawati tersebut dapat langsung menuju surga. Yesus menjawab bahwa itu semua karena semua indulgensi yang dengan setia diperolehnya, sang biarawati telah membayar lunas semua hutang dosanya kepada Tuhan, sehingga jiwanya bersih dan tak bernoda pada saat kematiannya!
HARTA PUSAKA GEREJA
Gereja Katolik mempunyai wewenang untuk memberikan indulgensi karena gereja memperolehnya dari kekayaan tak terhingga jasa-jasa Kristus, Bunda Maria dan semua orang kudus. Beata Maria dari Quito, seorang biarawati Spanyol, melihat dalam suatu penglihatan suatu harta pusaka yang berlimpah, yang - diterangkan kepadanya oleh Tuhan - melambangkan segala rahmat dan jasa-jasa Yesus (harta pusaka Gereja!) dari mana indulgensi diperoleh. Segala rahmat dan jasa-jasa ini dapat diperoleh siapa saja yang memenuhi persyaratan, yang biasanya amat mudah, untuk memperoleh indulgensi. Umat beriman yang tidak peduli untuk mendapatkan keuntungan dari indulgensi ini dapat diumpamakan seperti seorang pengembara yang melewati suatu padang penuh dengan perhiasan berharga, yang tidak mau merepotkan diri untuk memungut dan mengisi kantungnya dengan harta pusaka itu, meskipun ia tahu bahwa ia akan memerlukan harta tersebut setibanya di tempat tujuan.
Gereja menerima wewenang untuk memberikan indulgensi dari Yesus, yaitu ketika Ia memberikan kunci kerajaan Surga kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) Dalam bahasa modern, mungkin Yesus akan mengatakan, “Aku memberimu PIN untuk rekening bank surgawi-Ku.”
Pada abad kelimabelas dan keenambelas, Gereja memberikan indulgensi kepada mereka yang memberikan sumbangan untuk pembangunan katedral-katedral indah yang sedang dibangun pada saat itu. Sayang sekali, hal tersebut menimbulkan salah tafsir bahwa Gereja menjual indulgensi untuk mendapatkan uang. Sebagai akibatnya, kaum reformasi Protestan masa itu menolak mentah-mentah ajaran tentang indulgensi karena menganggapnya sebagai penyalahgunaan kuasa Gereja. Tentu saja mereka salah; meski pun mungkin ada beberapa penyalahgunaan, tetapi kuasa Gereja untuk memberikan indulgensi diberikan oleh Tuhan sendiri. Kaum Protestan itu ada benarnya juga ketika mengatakan bahwa kita tidak dapat sekedar membeli indulgensi seperti obat “mujarab” bagi jiwa kita! Kita harus mempunyai semangat penyesalan atas dosa-dosa kita agar dapat memperoleh manfaat indulgensi.
MACAM-MACAM INDULGENSI
Ada dua macam indulgensi: indulgensi sebagian dan indulgensi seluruhnya.
INDULGENSI SELURUHNYA: indulgensi seluruhnya menghapuskan seluruh hukuman (siksa dosa sementara) yang timbul karena dosa-dosa kita. Jika seseorang menerima indulgensi seluruhnya dan tiba-tiba meninggal segera sesudahnya, maka orang itu tidak akan perlu pergi ke api penyucian! Wow! Jadi, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Jawabannya amat sederhana: rahmat yang terkandung dalam indulgensi adalah tak terbatas (tentu saja, karena berasal dari jasa-jasa Kristus ya'kan?). Tetapi penyesalanmu sendiri atas dosa-dosamu adalah faktor yang menentukan dalam menerima rahmat ini. Salah satu syarat agar dapat menerima indulgensi seluruhnya ialah bahwa kamu tidak lagi mempunyai kelekatan terhadap dosa. Artinya kamu harus menyesali dosa-dosamu secara sempurna dan tidak ingin melakukannya lagi. Penyesalan sempurna ini membuka jiwamu lebar-lebar terhadap rahmat Tuhan, sehingga kamu dapat menerima rahmat indulgensi sepenuhnya. Tetapi, jika kamu melakukan perbuatan atau doa yang dapat mendatangkan indulgensi sepenuhnya, tetapi kamu masih memiliki kelekatan terhadap dosamu, kamu hanya menerima indulgensi sebagian.
INDULGENSI SEBAGIAN: indulgensi sebagian menghapuskan sebagian hukuman (siksa dosa sementara) yang timbul karena dosa-dosa kita. Gereja memberikan indulgensi sebagian atas perbuatan-perbuatan dan doa-doa yang tingkat kepentingannya kurang dibandingkan dengan yang memperoleh indulgensi seluruhnya. Pada masa yang silam, indulgensi biasa diukur dengan “hari” atau “tahun” yang sama dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan silih berat (misalnya kamu mendaraskan suatu doa tertentu, kamu dapat memperoleh indulgensi “empat puluh tahun”). Tetapi, hal ini menyebabkan umat beriman hanya sekedar menambahkan jumlah hari-hari dan tahun-tahun indulgensi yang mereka peroleh dan bukannya memusatkan diri pada penyesalan sungguh-sungguh atas dosa. Jadi pada tahun 1969 Gereja menghapuskannya dari perkataan “indulgensi sebagian”. Indulgensi sebagian tidak diukur dengan jangka waktu yang pasti, karena manfaatnya bergantung pada keterbukaan kita sendiri terhadap Tuhan serta penolakan kita terhadap dosa. Bahkan indulgensi sebagian amatlah berharga bagi kita - apakah kamu akan mengeluh jika kamu berhutang Rp 20.000 dan seseorang membayarkan Rp 6.000 untukmu?!
Catatan: Indulgensi sebagian dapat diperoleh beberapa kali dalam sehari. Indulgensi seluruhnya hanya dapat diperoleh satu kali dalam satu hari.
PERSYARATAN MENDAPATKAN INDULGENSI SELURUHNYA
Melakukan perbuatan atau mendaraskan doa yang dapat mendatangkan indulgensi.
Mengakukan dosa-dosamu kepada imam dengan penyesalan sempurna karena telah menghina Tuhan.
Menerima Komuni Kudus.
Berdoa bagi intensi Bapa Suci (doa-doa yang lazim ialah Bapa Kami, Salam Maria dan Sahadat Para Rasul).
Perlu diketahui bahwa kita perlu menerima Komuni Kudus untuk setiap indulgensi seluruhnya, tetapi satu Sakramen Tobat dapat dipergunakan untuk beberapa indulgensi.
DOA & PERBUATAN YANG DAPAT MENDATANGKAN INDULGENSI
SECARA UMUM:
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang, dalam melaksanakan kewajibannya dan dalam menanggung pencobaan-pencobaan hidupnya, mengangkat akal budi mereka dengan penuh percaya dan rendah hati kepada Tuhan, dan menyerukan - bahkan jika hanya secara batin - seruan-seruan saleh (misalnya “Bunda Maria, doakanlah kami", dsbnya).
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan semangat iman dan belas kasihan memberikan dirinya atau harta miliknya untuk melayani sesamanya yang membutuhkan.
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan semangat silih secara sukarela menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mereka senangi.
Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang menjadi saksi iman di lingkungan bukan Katolik (hal ini bahkan dapat sangat sederhana seperti berdoa di sebuah restaurant!).
BERBAGAI MACAM DOA YANG MENDATANGKAN INDULGENSI:
Rosario (indulgensi seluruhnya apabila didaraskan di gereja, atau dalam kelompok atau dalam keluarga, indulgensi sebagian di luar kondisi tersebut).
Jalan Salib, Syahadat Nicea (indulgensi seluruhnya).
Litani Hati Yesus yang Mahakudus, Litani Santa Perawan Maria atau Litani Orang Kudus (indulgensi sebagian).
Ratu Surga, Syahadat Para Rasul, Tanda Salib, doa untuk panggilan hidup religius dan imamat (indulgensi sebagian).
BERBAGAI MACAM PERBUATAN YANG MENDATANGKAN INDULGENSI:
Mengunjungi makam dan berdoa bagi mereka yang sudah meninggal (indulgensi penuh dari tanggal 1 hingga 8 November, dan indulgensi sebagian untuk hari-hari lainnya. Indulgensi ini diperuntukkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian).
Sembah sujud di hadapan Sakramen Maha Kudus (indulgensi sebagian, indulgensi seluruhnya jika sembah sujud lebih dari setengah jam).
Membaca Kitab Suci (indulgensi sebagian, indulgensi seluruhnya apabila lebih dari setengah jam).
Mengajar atau belajar ajaran Gereja (indulgensi sebagian).
Meluangkan waktu sedikitnya tiga hari dalam suatu retret (indulgensi seluruhnya).
Ambil bagian dalam Penghormatan Salib dalam Ibadat Jumat Agung dan mencium salib dengan khidmat (indulgensi seluruhnya).
Pembaharuan Janji Baptis (indulgensi sebagian, indulgensi seluruhnya jika pembaharuan Janji Baptis dilakukan pada Malam Paskah atau pada peringatan pembaptisan seseorang).
Catatan: masih ada banyak macam dan ragam indulgensi lainnya.
TAHUKAH KAMU?
Meskipun kamu tidak dapat mempergunakan indulgensi yang kamu peroleh bagi orang lain yang masih hidup (mereka harus mendapatkan indulgensi mereka sendiri!) kamu dapat memohon kepada Tuhan untuk mempergunakan indulgensi yang kamu peroleh untuk membebaskan jiwa-jiwa di api penyucian. Juga jangan lupa memohon bantuan doa dari jiwa-jiwa menderita itu agar mendoakanmu jika kelak mereka telah tiba di surga; tanpa kamu sadari kamu telah menjalin persaudaraan dengan para kudus di surga!
sumber : :"Indulgences: the treasures of the Catholic Church"; Catholic Youth Networking; www.catholicyouth.freeservers.com

No comments:
Post a Comment