

Doa: Tangga ke Surga
oleh: Romo Francis J. Peffley
“Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.” Kej 28:12-13
Definisi Doa:
Mengangkat hati serta pikiran kita kepada Tuhan. Doa ialah berbicara dengan Tuhan.
"Doa adalah kunci Surga." - St. Agustinus
“Doa adalah gerbang mulia, melaluinya kita masuk ke dalam hati Tuhan.” - Ven. Louis dari Granada
“Doa adalah persatuan dengan Tuhan.” - St. Yohanes Vianney
Empat Tujuan Utama Doa:
1. ADORASI: penyembahan yang layak bagi Tuhan karena Ia yang mencipta, menyelamatkan serta menguduskan kita.
2. SYUKUR: berterima kasih kepada Tuhan atas anugerahnya kepada kita, baik rohani maupun jasmani. Jadi, dalam doa kita bersyukur kepada Tuhan atas hidup kita, iman kita, keluarga kita, dll.
3. TOBAT: untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita dan penghapusan/pengurangan hukuman dosa. Dalam doa kita ingat bahwa kita adalah orang berdosa, kita menyesal atas dosa-dosa kita dan mohon ampun, kita mohon penitensi bagi dosa-dosa kita melalui doa. St. Ambrosius mengatakan: “Jika doa dilambungkan, dosa dihapuskan.”
4. PERMOHONAN: dalam doa kita boleh memohon kepada Tuhan apa yang kita butuhkan, baik bagi jiwa maupun badan kita, bagi jasmani maupun rohani, bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.
Tujuh Kualitas Utama Doa:
1. DEVOSI: menyatukan hati dalam doa. “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mat 15:8)
2. KESUNGGUHAN HATI: hasrat yang kuat untuk melayani serta mencintai Tuhan melalui doa. “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Luk 22:43,44)
3. KETEKUNAN: Kita perlu bertekun dalam doa dan tidak cepat menyerah. Kita perlu terus-menerus berdoa setiap hari. Kristus mengatakan: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti … Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” (Luk 11:5-10 / lihat juga Luk 18:1-8, Mat 24:13).
“Si pendusta tahu bahwa jika suatu jiwa bertekun dalam doa, maka jiwa itu bukan miliknya lagi.” - St. Theresia dari Avila
“Melalui doa yang dilambungkan dengan kerendahan hati dan iman, jiwa memperoleh, dengan waktu dan ketekunan, setiap keutamaan.” - St. Katarina dari Siena
Kita wajib berdoa sekurang-kurangnya 15 menit setiap hari, jika tidak hubungan kita dengan Tuhan tidak akan berkembang. Karena Tuhan adalah Pribadi yang paling penting dalam hidup kita, kita wajib berbicara kepada-Nya setiap hari. Setiap harinya kita menghabiskan lebih banyak waktu sekedar untuk makan, bersantai dan menikmati hiburan. Jiwa kita jauh lebih penting daripada tubuh kita. Dan Tuhan pastilah jauh lebih penting daripada siapa pun atau apa pun juga dalam hidup kita, jadi Ia layak mendapatkan prioritas utama. Mengenai berapa banyak kita harus berdoa, Kitab Suci mengatakan: - selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1), - tetaplah berdoa (1Tes 5:17), - berdoalah setiap waktu (Ef 6:18 dan Kis 6:4).
4. KERENDAHAN HATI: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yak 4:6, lihat juga Mat 6:1-6, Lukas 18:9-14).
5. KONSENTRASI: Bagaimana mungkin kita mengharapkan Tuhan mendengarkan doa kita, jika kita sendiri tidak memusatkan perhatian kita dalam doa? (Lihat Mat 6:7,8). Beberapa distraksi yang tidak disengaja dalam doa memang tak terelakkan, tetapi kita harus berusaha untuk menguranginya. St. Edmund mengatakan: “Lebih baik mengucapkan satu kali Bapa Kami dengan kesungguhan serta ketulusan hati daripada seribu kali tanpa kesungguhan dan penuh dengan distraksi.”
6. IMAN: “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. (Ibr 11:6) “Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya padaMu” (Dan 3:40) “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." (Mat 19:26)
7. PRIORITAS: Ketika kita berdoa kita harus menempatkan prioritas dengan benar, yaitu kehendak Tuhan lebih utama dari kehendak kita. Yesus berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk 22:42)
Apakah Tuhan selalu menjawab doa-doa kita? Ya. Ada tiga bentuk jawaban doa - ya, tidak, dan tunggu. Tidak ada doa yang tidak dijawab dan tidak ada doa yang tidak didengar. St. Thomas mengajarkan bahwa Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita minta dalam doa jika permintaan kita itu tidak baik bagi keselamatan kita. Kita harus bertanya apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita. Kristus mengajarkan:
“…Janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:31-33) “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26)
Kita harus percaya pada kebijaksanaan Tuhan, dan bukan pada kebodohan kita sendiri. St. Agustinus mengatakan: “Kita harus yakin bahwa apa yang tidak dikabulkan Tuhan dalam doa kita, Ia melakukannya demi keselamatan kita. Jadi kita perlu mengerti bahwa meskipun Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, Ia memberikan apa yang baik bagi kita. Ketika kamu sakit, kamu mungkin meminta sesuatu yang tidak baik bagimu, tetapi dokter mengetahuinya. Misalkan kamu meminta air dingin: jika itu baik bagimu, dokter akan segera memberikannya kepadamu; jika tidak, ia akan menolak, tetapi itu tidak berarti bahwa ia tidak mendengarmu. Ia menolak keinginanmu karena ia mendengarkan keinginanmu untuk menjadi sehat. Jadi biarlah ketulusan hati, saudara-saudaraku, ada di dalam engkau: biarlah ketulusan hati ada di dalammu, maka engkau tidak perlu khawatir. Walaupun permohonanmu tidak dikabulkan, kamu didengarkan, meskipun kamu tidak mengetahuinya. Mereka yang tekun berdoa kepada Tuhan memohon kebutuhan-kebutuhan hidup, sekaligus didengarkan dan tidak didengarkan dengan belas kasih. Karena seorang dokter jauh lebih tahu daripada si sakit apa yang baik bagi kesehatannya.”
Doa di hadapan Sakramen Maha Kudus:
Salah satu tempat terbaik untuk berdoa adalah di dalam Gereja di mana Sakramen Maha Kudus ditempatkan dalam tabernakel. Berdoa di hadapan Kristus Sendiri membantu kita mengobarkan api cinta kita kepada Tuhan. (lihat Mat 26:40-41)
Manfaat Doa:
Meningkatkan persatuan dengan Tuhan, memperoleh rahmat, iman, cinta serta menolong kita melawan godaan dan mentaati perintah-perintah Tuhan. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Mat 26:41). Doa bertentangan dengan dosa. Sungguh tidaklah mungkin untuk tetap tinggal dalam dosa berat sambil bertekun dalam doa. Kamu harus melepaskan salah satunya, entah kamu bertekun dalam doa atau tetap tinggal dalam dosa. Kamu tidak dapat tinggal dalam keduanya sekaligus.
Kuasa Doa seperti dinyatakan dalam Kitab Suci:
“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16-18, lihat juga 2 Raj 20:1-6, Yosua 10:12-14, Dan 6). Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.
Kuasa Doa seperti dinyatakan Para Kudus:
“Tuhan menguasai dunia, tetapi doa menguasai Tuhan Sendiri!”
- St. Yohanes Krisostomos
“Aku tahu yang lebih kuat daripada Tuhan: orang yang berdoa. Ia membuat Tuhan mengatakan `Ya', ketika Ia telah mengatakan `Tidak!'”
- St. Yohanes Vianney
“Ia yang berdoa, diselamatkan; ia yang tidak berdoa, celaka!”
- St. Alfonsus
“Sama seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa makanan, demikian juga jiwa kita tidak dapat hidup secara rohani tanpa doa.”
- St. Agustinus
“Rosario adalah doa yang paling luhur sesudah Kurban Kudus Misa.” - St. Karolus Boromeus
sumber : "Prayer: The Stairway to Heaven" by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”
Karunia Doa
oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.
berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 2558-2567
Apakah kamu berdoa? Apakah kamu berdoa seringkali, atau hanya sesekali? Apakah doa penting bagimu?
Saya bertanya demikian karena doa dan berdoa sangatlah penting bagi kehidupan imanmu. Sama seperti napas bagi tubuh, demikian juga doa bagi kehidupan rohani. Tanpa doa, iman akan mati. Sebaliknya, orang yang berdoa akan bertumbuh dalam kehidupan rohani.
Saya akan memberitahukan kepadamu beberapa hal yang semoga dapat mendorongmu untuk berdoa.
DOA ADALAH KARUNIA TUHAN
“Karunia” adalah kata yang tepat untuk menjelaskan doa, karena berdoa bukanlah sesuatu yang dapat kita kerjakan dari diri kita sendiri. “Kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa,” demikian Kitab Suci mengatakan. Jadi, doa pastilah karunia yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Dan Tuhan memberikan karunia-Nya itu dengan murah hati, tanpa mempertimbangkan kelayakan atau pun ketidaklayakan kita. Baik orang-orang berdosa maupun orang-orang kudus bisa berdoa. Manusia dari berbagai macam agama menerima karunia doa. Sesungguhnya, setiap orang bisa berdoa. Katekismus Gereja Katolik mengingatkan kita akan hal itu dengan memberi judul Bab Satu bagian doa: Panggilan Umum untuk Berdoa (2566-2567).
Ya, semua orang dipanggil untuk berdoa. Semua orang menerima karunia doa. Dan, yang mengejutkan, kadang-kadang mereka yang kita pikir “tidak berbakat”, ternyata berdoa lebih baik dan didengarkan Tuhan dengan penuh belas kasih. Itulah pelajaran yang Yesus ajarkan melalui perumpamaan-Nya tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang sama-sama pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Pemungut cukai, seorang pendosa yang menganggap dirinya tidak layak menghadap Tuhan dalam doa, ternyata lebih menyenangkan hati Tuhan daripada orang Farisi, seorang ahli agama yang fasih berdoa.
Jadi, doa adalah karunia Tuhan bagi mereka yang kuat, juga bagi mereka yang lemah, bagi anak yang masih kecil dan bagi orang tua yang sudah rapuh. Karunia itu diberikan kepada mereka yang mengatakan, “Saya bukanlah seorang yang saleh; doa adalah di luar kemampuan saya.” Karunia doa diberikan kepada siapa saja, tanpa peduli siapa orangnya.
Namun demikian, bukan berarti kita tidak dapat menolak untuk berdoa atau kita tidak dapat mengacuhkannya. Sama seperti hadiah mana pun, doa wajib diterima. Jika seseorang memberimu sebuah baju yang indah, kamu boleh memakainya, boleh juga tidak. Kamu boleh mengambil serta mengenakannya. Kamu boleh juga melemparkannya ke dalam gudang dan tidak pernah melihatnya lagi. Jika demikian, baju indah itu akan menjadi hadiah yang tidak berguna. “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah,” kata Yesus kepada perempuan Samaria di tepi sumur. Karunia Allah ada di hadapannya, tetapi perempuan itu tidak mengenali-Nya.
Betapa menyedihkan melewatkan hidup di dunia ini tanpa mempergunakan karunia doa!
DOA : TUHAN MENGHENDAKI HUBUNGAN YANG MESRA DENGAN KITA
Mengapa Tuhan memberikan karunia doa? Alasan utamanya ialah karena Tuhan mengasihi kita. Tuhan menghendaki hubungan yang mesra dengan kita. Alangkah aneh kedengarannya! Tuhan yang Mahapencipta, Mahakuasa, Mahatahu berharap untuk mendekati kita, berkomunikasi dengan kita, berbicara dengan kita, mengharapkan jawaban kita, mendengarkan doa kita. Tampaknya tidak masuk akal, tetapi memang benar demikian.
Pada saat yang sama, dengan berdoa kita memenuhi hasrat kita sebagai manusia untuk mengenal Tuhan. Bagaimana pun juga kita diciptakan seturut citra Allah. Sesuatu dari dalam diri kita rindu untuk bersatu dengan Tuhan. Kerinduan itu diungkapkan dalam Mazmur, Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Sesuatu dari dalam diri kita tidak akan dapat dipuaskan sebelum kita mendekat kepada Tuhan. “Hati kami tiada tenang,” kata St. Agustinus, “sebelum beristirahat di dalam Dikau.” Dengan berdoa, kita beristirahat di dalam Tuhan.
Gereja dalam doa-doanya kerap dengan rendah hati mengakui bahwa doa adalah karunia Tuhan dan mohon pada Tuhan untuk memberikan serta menguatkan karunia itu bagi kita. Pada awal doa hariannya, gereja mendoakan dua ayat dari Mazmur.
Ya Tuhan, bukalah bibirku,
supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!
Ya TUHAN, berkenanlah melepaskan aku;
TUHAN, segeralah menolong aku!
Kata-kata yang sederhana dan jujur. Aku tidak dapat membuka bibirku untuk berdoa jika Tuhan tidak memberiku karunia. Ya Tuhan, datang dan tolonglah aku; bantulah aku agar dapat berjumpa dengan-Mu.
Dan Tuhan sungguh-sungguh memberikan karunia yang indah ini. Dalam doa Tuhan datang dan menolong kita; Tuhan mengundang kita masuk dalam kerahiman-Nya di mana kita dapat membuka bibir dan hati kita. Di sanalah Tuhan menyambut bahkan kata-kata atau tangisan yang paling lirih, usaha kita yang terkecil sekali pun. Dengan sukacita Tuhan memberikan karunia doa kepada kita, Tuhan mengharapkan kita datang kepada-Nya untuk berbagi pikiran dan perasaan, berbagi hidup kita seluruhnya dengan Dia yang mengasihi kita. Doa adalah karunia Tuhan yang amat berharga, camkanlah itu senantiasa.
sumber : "The Gift of Prayer" by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer
Yesus Berdoa
oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.
berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 2598-2616
Kita, umat Kristiani, belajar berdoa dari Yesus Kristus, yang tidak saja mengajar kita untuk berdoa, tetapi Ia Sendiri pun berdoa. Injil penuh dengan teladan doa-Nya.
APAKAH YESUS SENDIRI HARUS BELAJAR BERDOA?
Ya. Benar, bahwa Ia adalah Putera Allah yang mengetahui segala sesuatu. Tetapi sebagai manusia seperti kita, Ia harus belajar berdoa sementara Ia tumbuh dewasa. Di kota Nazareth, Maria dan Yusuf membimbing langkah-langkah pertama-Nya dalam berdoa. Di rumah, di sinagoga di Nazareth, di Bait Allah di Yerusalem Ia belajar tata cara dan doa-doa orang Yahudi.
Namun demikian, bahkan di tahun-tahun awal hidup-Nya, Yesus berdoa kepada Tuhan dengan kemesraan yang jelas nyata. Tuhan adalah Bapa-Nya dan Ia adalah Putera Allah. Ada kepasrahan dan hubungan istimewa antara anak dengan Bapa dalam doa-Nya.
Yesus berdoa secara rutin, demikian seperti yang dikenang para murid-Nya. Ia berdoa sebelum mengambil langkah-langkah yang menentukan dalam perutusan-Nya, mulai dari pembaptisan-Nya dan sementara ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya. Ia berdoa di saat manusiawi-Nya lemah dan di saat kematian, seperti yang dilakukan-Nya di kubur Lazarus. Ia kerap berdoa untuk mengucap syukur. Doa-Nya mantap, penuh syukur dan penuh kepercayaan bahwa kehendak Allah adalah untuk keselamatan-Nya semata.
Doa-Nya sepenuh hati. Tidak ada yang lebih nyata dari saat ia berdoa di atas kayu salib. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” “Aku haus!” “Ibu, inilah, anakmu!” “Inilah ibumu!” “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” “Sudah selesai.” “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Doa-doa-Nya adalah doa yang datang dari hati. Doa-doa yang mengungkapkan kasih-Nya kepada mereka yang Ia kasihi dan mengampuni mereka yang bersalah kepada-Nya; Ia lemah sebagai manusia, namun kuat di dalam iman. Tidak pernah ada hati manusia yang menyentuh Tuhan sedemikian dalam lebih dari saat Yesus berdoa di atas salib.
Ia mengakhiri hidupnya dengan suatu seruan yang nyaring. Bahkan seruan nyaring-Nya itu merupakan doa sepenuh hati kepada Tuhan, yang keluar dari kedalaman diri-Nya dan mengungkapkan apa yang tidak dapat dikatakan.
Dan doa-Nya didengarkan Tuhan. Tuhan membangkitkan-Nya. Kita, umat Kristiani, percaya akan doa yang diajarkan Yesus bahwa doa selalu didengarkan. Dalam doa-Nya terletak harapan kita.
APA YANG DAPAT KITA PETIK DARI DOA YESUS?
Pertama-tama, bahwa doa yang benar harus datang dari hati. Ia berdoa dari dalam lubuk hati-Nya, bukan hanya sekedar kata-kata atau gerakan. Doa-Nya tidak hanya berdasarkan pada pikiran atau perasaan. Doa berasal dari dalam, di luar batas pikiran dan perasaan, dari kita sendiri. “Masuklah ke dalam kamarmu,” sabda Yesus, “berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Kadangkala doa dari hati, dari “kamarmu”, dituangkan dalam bentuk kata-kata, di lain waktu mungkin akan seperti seruan-Nya yang tanpa kata.
Kedua, berdoa dengan iman. Yesus berdoa dengan iman yang teguh kepada Bapa Surgawi, iman yang bertahan hingga akhir hidup-Nya. Ia mengajarkan kepada kita untuk juga berdoa dengan iman seorang anak kepada Tuhan, yakin bahwa doa-doa kita didengarkan oleh Dia yang mengasihi kita.
Ketiga, haruslah berdoa dengan mantap dan tekun, sama seperti Ia berdoa, bahkan ketika tampaknya tidak ada jawaban atau pun pertolongan yang datang. “Berjaga-jagalah dan berdoalah,” sabda Yesus, “Carilah dan ketuklah,” hingga pintu yang menyatakan kemuliaan Tuhan dibukakan.
Murid-murid-Nya meminta Yesus untuk mengajar mereka berdoa. Ia mengajarkannya kepada mereka, dan Ia mengajarkannya kepada kita juga. Namun demikian, Yesus lebih dari sekedar guru. Sebagai umat Kristiani kita percaya bahwa Yesus berdoa bagi kita; Ia adalah pengantara kita kepada Tuhan. Sebagai Juruselamat, Ia menghimpun semua doa-doa kita, kebutuhan-kebutuhan kita, jeritan-jeritan hati kita, dan menjadikannya doa-Nya Sendiri serta membawanya ke hadapan Allah yang mendengarkan doa-doa kita melalui doa Putera-Nya.
Itulah sebabnya mengapa kita seringkali mengakhiri doa kita dengan kata-kata yang indah ini: “Dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kita. Amin.” Yesus adalah Guru kita dan Ia adalah Penyelamat kita, yang menyambut doa-doa kita dan menjadikannya doa-Nya Sendiri.
sumber : "Jesus Prayed" by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”
Doa Yang Diajarkan Yesus Kepada Kita
“Tuhan, ajarlah kami berdoa,” kata murid-murid kepada Yesus (Luk 11:1). Ia menjawab dengan mengajarkan kepada mereka doa yang kita sebut sebagai Doa Bapa Kami atau Doa Tuhan.
Doa Bapa kami adalah doa dasar umat Kristiani. Sebagai doa dasar, setiap umat Kristiani menghafalnya di luar kepala. Doa Bapa Kami didaraskan di setiap kesempatan dalam kehidupan gereja: dalam liturgi dan sakramen-sakramen gereja, dalam doa bersama maupun doa pribadi. Doa Bapa Kami adalah doa yang amat berharga bagi umat Kristiani.
Meskipun kita menghafalkannya sebagai suatu rumusan, Doa Bapa Kami tidak seharusnya diucapkan secara mekanis atau tanpa perasaan. Tujuan Doa Bapa Kami adalah untuk membangkitkan serta menyemangati iman kita. Melalui Doa Bapa Kami, Yesus mengajak kita untuk datang kepada Tuhan sebagai Bapa. Sungguh, Doa Bapa Kami merupakan ringkasan seluruh Injil.
Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu.
Ketika Musa mendekati Tuhan di Gunung Sinai, ia mendengar suara yang berkata, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Suatu jurang perbedaan yang tak terhingga memisahkan kita dari Tuhan yang Mahakuasa.
Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengundang kita untuk mendekati Tuhan, yang jauh di atas pengertian manusia, yang tinggal dalam misteri, yang kudus dan mulia. Kita boleh memanggil Tuhan sebagai “Bapa kami”.
Menyebut Tuhan sebagai “Bapa” bukan berarti bahwa Tuhan itu pria. Tuhan jauh di atas kategori pria atau wanita. Tidak akan ada satu pun gambaran kita mengenai Tuhan yang sesuai. Tuhan, “yang ada di Surga”, yang nama-Nya adalah kudus, tidak mungkin dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia.
Dengan memanggil Tuhan sebagai “Bapa” kita lebih tepat menggambarkan diri kita dan hubungan kita dengan Tuhan. Yesus mengajarkan bahwa kita mempunyai hubungan istimewa sebagai anak; Tuhan memandang kita sebagai anak-anak-Nya. Dan kita berani mendekat kepada Tuhan dengan penuh kepercayaan serta kemesraan seperti layaknya seorang anak datang kepada orangtua yang mengasihinya. Terlebih lagi, kita datang kepada Tuhan melalui Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus, yang mempersatukan kita dengan Diri-Nya Sendiri.
Datanglah kerajaan-Mu.
Jadilah kehendak-Mu
di atas bumi seperti di dalam surga.
Kerajaan Allah. Yesus kerap kali mengatakan bahwa kuasa Allah akan datang dan memperbaharui seluruh ciptaan. Tuhan bagaikan seorang Raja yang Mahakuasa yang akan memerintah bumi sesuai dengan rencana yang telah dinyatakan sejak dunia dijadikan. Kerajaan Allah akan ditandai dengan damai dan keadilan. Yang baik akan memperoleh ganjaran dan yang jahat akan memperoleh hukuman. Kerajaan Allah, menurut Yesus, tidaklah jauh, tetapi sudah berada di tengah-tengah kita, meskipun masih terselubung.
Dalam doa Bapa Kami, kita berdoa agar Kerajaan Allah segera datang, agar kehendak Allah, yang demi kebaikan kita, terjadi di bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rejeki pada hari ini,
Kita adalah anak-anak Allah. Adakah yang lebih sederhana dan polos selain dari permohonan ini di mana kita berdoa memohon rejeki, kata yang menggambarkan segala rahmat rohani dan jasmani yang kita butuhkan agar dapat hidup? Dengan kepercayaan seorang anak kita mengatakan: “Berilah kami hari ini apa yang kami butuhkan.”
dan ampunilah kesalahan kami, eperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Permohonan dari Doa Bapa Kami ini mengandung syarat. Bukan saja kita memohon pengampunan dari Tuhan atas segala kesalahan kita, tetapi kita menghubungkan pengampunan yang kita terima dari Tuhan itu dengan pengampunan yang kita berikan kepada orang lain. Mengampuni kesalahan orang lain bukanlah selalu hal yang mudah untuk dilakukan. Kita membutuhkan rahmat Tuhan untuk melakukannya. Namun demikian pengampunan harus diberikan, jika tidak, kita sendiri tidak dapat menerima belas kasihan Tuhan.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Hidup itu tidaklah mudah. Hidup adalah berjuang setiap hari. Pencobaan seperti sakit dan kegagalan dapat mematahkan semangat kita. Nilai-nilai serta harapan-harapan palsu dapat membujuk kita, dan pada akhirnya menghancurkan jiwa kita. Oleh karenanya, kita mohon kepada Tuhan untuk menjaga agar kita tidak jatuh dalam pencobaan, untuk membimbing kita agar melakukan yang benar, untuk membebaskan kita dari yang jahat, yang terus menerus menunggu kesempatan untuk menjebak kita.
Doa Bapa Kami merupakan ringkasan ajaran Yesus. Doa yang juga menawarkan rahmat Yesus sendiri: pengantaraan-Nya kepada Tuhan, kepercayaan-Nya yang total kepada Bapa-Nya, serta kekuatan-Nya untuk menjalani hidup dengan berani tanpa peduli apa pun resikonya. Ketika kita mendaraskan doa-Nya, semangat Yesus sendiri menjadi semangat kita.
Doa Yesus
oleh: Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm
1. Apakah doa itu?
Doa adalah suatu hubungan pribadi dengan Allah yang diungkapkan dalam suatu percakapan, pujian, syukur, permohonan, kerinduan, penyesalan, masuk dalam keheningan dan mendengarkan suara Allah yang berbicara kepada kita. Allah telah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, Ia begitu mengasihi kita dan ingin agar kita memasuki hubungan yang mesra dengan Dia. Hubungan antara manusia dengan Allah itu bukan buah pikiran atau khayalan manusia, melainkan buah karya keselamatan Allah. Allah yang menanamkan kerinduan itu di dalam hati manusia. Allah menghendaki agar kita mengenal Dia sungguh-sungguh dan memasuki aliran hidup yang ada di dalam diri Allah sendiri. Dalam Kristus, Bapa menawarkan cinta-Nya kepada kita. Ia ingin agar kita memasuki persekutuan hidup dengan-Nya. Jadi Allah yang lebih dahulu menawarkan hubungan ini kepada kita. Bagaimana kita dapat menjawab tawaran Allah ini dengan semestinya? Yaitu bahwa Allah telah mengutus Roh-Nya sendiri untuk membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan (Rm 8:26).
2. Yesus adalah teladan kita dalam berdoa
Yesus adalah pendoa yang sejati, dalam seluruh hidup-Nya Ia mempunyai hubungan yang mesra dengan Bapa-Nya. Kita melihat dalam Injil, Yesus sering pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa (Mrk 1:35), Yesus berdoa di atas gunung Tabor bersama murid-murid-Nya (Luk 9: 28-30). Dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak Yesus selalu berdoa; ketika mengadakan perbanyakan roti Yesus menengadah ke langit mengucap syukur kepada BapaNya; Yesus berdoa di taman Getsemani ketika akan menghadapi ajal-Nya (Luk 22:39-46). Jadi dapat disimpulkan bahwa doa Yesus memancar keluar dari hubungan-Nya yang mesra dengan Allah Bapa. Semakin Yesus bergaul mesra dengan Bapa-Nya, maka semakin nyata bahwa Yesus selalu hidup di hadirat Bapa. Seperti dikatakan dalam Injil Yoh 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Apa yang dilihat-Nya dikerjakan oleh Bapa-Nya itulah yang dikerjakan-Nya (Yoh 5: 19).Yesus juga mengundang kita semua untuk mengambil bagian dalam hubungan-Nya yang mesra dengan Bapa-Nya ini. Ia mengutus Roh-Nya supaya dalam kuasa Roh itu kita dijadikan anak-anak-Nya dan mengambil bagian dalam misteri hubungan yang mesra dengan Allah Bapa. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utu.” (Yoh 17:3).
3. Inti Doa Yesus
Doa Yesus amat populer dalam tradisi Gereja Timur, dan sudah tersebar luas juga dalam Gereja Katolik. Inti doa Yesus ini adalah penyeruan nama Yesus, itulah sebabnya disebut doa Yesus. Penyeruan nama Yesus itu bukan hanya secara mekanis saja, tetapi harus disertai dengan iman, harapan, dan kasih. Penyeruan nama Yesus itu harus merupakan ungkapan kerinduan hati untuk mengenal dan mengalami kasih-Nya. Kita mencurahkan seluruh isi hati kita, kerinduan kita dalam nama suci itu. Doa ini bersandar pada kekuatan nama Yesus, “Barangsiapa berseru kepada nama Yesus akan diselamatkan” (Kis 2:21. Kis 4:12). Dengan menyerukan nama Yesus kita memanggil hadir Yesus sendiri atau lebih tepat kita menghadirkan diri pada Roh yang sesungguhnya sudah senantiasa hadir, tetapi tidak kita sadari kehadiran-Nya. Nama Roh itu akan menyelamatkan, menyembuhkan, menyucikan kita. Rumusan doa Roh secara kongkrit itu demikian: “Yesus, Yesus, Yesus kasihanilah aku.” Ada pula yang memakai rumusan: “Yesus, Putera Allah yang hidup, kasihanilah aku orang yang berdosa ini.” Seruan ini berasal dari seruan si buta dari Yerikho yang memohon kesembuhan kepada Yesus (Luk 18:38), atau doa si pemungut cukai “Ya Yesus kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Juga dapat hanya disebutkan “Yesus, Yesus” saja, atau bahkan hanya “Yesus” saja. Kata-katanya dapat berbeda-beda, tetapi sangat dianjurkan berpegang pada satu rumusan saja. Banyaknya kata-kata dalam doa kerapkali mengisi roh kita dengan gambaran-gambaran yang tidak berguna serta mencerai-beraikan perhatian, sedangkan kata tunggal menghasilkan pemusatan perhatian ke dalam, demikian nasehat Santo Yohanes Climakus, salah seorang tokoh dalam bidang ini.
4. Latihan penyadaran
Seringkali orang sukar berdoa karena kebisingan dan keramaian jiwanya. Oleh karena itu perlulah diciptakan keheningan dalam dirinya lebih dahulu, supaya dapat memasuki doa yang lebih dalam. Untuk tujuan ini dapat dipakai latihan penyadaran. Tujuan latihan ini adalah untuk memperbesar daya konsentrasi dan kepekaan terhadap alam sekitar dan dengan demikian juga kepekaan terhadap karya Roh di dalam dirinya. Latihan penyadaran itu dapat diarahkan pada suara, memusatkan pandangan pada sesuatu seperti salib, lilin, merasakan sentuhan pada pakaian yang melekat di tubuh, merasakan udara yang sejuk yang menyentuh kulit, menyadari pernapasan, dll. Latihan penyadaran ini dilakukan untuk membantu konsentrasi.
5. Doa dan pernapasan
Doa ini dapat dimulai dengan bantuan rosario. Doa ini dapat didoakan setiap waktu, dalam situasi apapun juga, di dalam bis, atau kereta api, atau ketika kita melakukan aktivitas sehari-hari yang tidak membutuhkan konsentrasi penuh. Misalnya jika sedang mengerjakan pembukuan tentu kita membutuhkan konsentrasi penuh. Doa Yesus bisa dilakukan misalnya sambil mengemudikan kendaraan, menyapu, berjalan, menunggu antrian dokter, dll. Doa Yesus ini hendaknya bukan hanya aktivitas lahiriah saja, namun harus membawa kita kepada doa yang lebih batiniah. Untuk mencapai tujuan itu kita dapat mengiramakan doa itu dengan pernapasan, seturut keluar masuknya napas. Misalnya: waktu menarik napas mendoakan “Tuhan Yesus Kristus”, waktu mengeluarkan napas menyerukan “kasihanilah aku.” Dapat pula lebih pendek “Tuhan Yesus” saja. Bahkan hanya nama Yesus saja, “Ye--sus” atau “Ye--su”. Dengan mengatur doa seturut pernapasan, roh kita menjadi tenang, menemukan damai. Perhatiannya mudah dipusatkan dan ia sedikit demi sedikit menguasai gerak pikiran, fantasi, ide-ide. Ia menjadi terarah ke dalam dan makin menjadi satu, maka terciptalah harmoni.
6. Halangan-halangan doa
Menurut St. Theresia dari Avila, Allah bertahta di kedalaman lubuk hati kita. Allah berdiri di depan pintu hati kita dan mengetuk (Why 3:20). Untuk berjumpa dengan Allah, kita harus masuk ke dalam hati kita. Hal ini hanya bisa terlaksana kalau kita mengheningkan hati dari segala macam keributan seperti kecemasan, ketakutan, kekuatiran, dendam, rasa bersalah, iri hati, menyimpan jimat, belajar ilmu gaib bela diri, mempunyai ikatan dengan kuasa gelap, perdukunan, tukang ramal, dan macam-macam dosa lainnya. Untuk itu kita harus membuka hati terhadap Tuhan, minta pengampunan, bertobat dan merasakan kerahiman-Nya / belas kasihan-Nya.
7. Motivasi doa
Hendaklah doa Yesus ini dijalankan dengan motivasi yang murni. Doa itu hendaknya merupakan persembahan diri yang murni kepada Allah. Memberikan waktu secara cuma-cuma bagi Tuhan, memboroskan waktu untuk Tuhan, sebab Dia pantas dicintai demi diri-Nya sendiri. Doa kita harus bertujuan untuk sekedar hadir di hadapan Allah yang dirindukan oleh jiwa kita. Biarpun kadang-kadang doa itu kering sekali, toh doa ini sangat berharga. Sebab dalam keheningan dan ketenangan, Allah dapat menyatakan diri secara rahasia kepada jiwa, dan secara rahasia Allah mencurahkan cinta dan kebijaksanaan dalam hati kita, sehingga tanpa tahu bagaimananya, hati kita mulai berkobar dalam cinta kasih Allah dan lebih merindukan Dia.
8. Gejala-gejala yang kadang-kadang menyertai doa
Dalam doa Yesus kadang-kadang timbul gejala seperti: badan bergoyang ke depan atau ke belakang, ke samping, melihat terang / sinar, melihat vision / penampakan, tangan bergetar, merasa dipeluk Yesus, air mata mengalir, mengalami aliran hangat atau dingin, dll. Kalau ada pengalaman-pengalaman tersebut tidak usah diperhatikan, dalam doa janganlah mencari pengalaman-pengalaman. Kalau ada pengalaman bersyukur, tidak ada pengalaman juga tetap bersyukur. Sebab dalam doa itu kita tidak mencari hiburan / pengalaman, melainkan mencari Yesus yang hadir dalam hati kita. Baik tidaknya doa tidak tergantung dari keadaan in / hambar, lamanya berjam-jam, ada hiburan atau tidak, tetapi dilihat dari buah-buahnya. Kalau terjadi pelanturan jangan menjadi marah atau jengkel, tetapi dengan tenang kembali lagi menyadari kehadiran Tuhan dan menyerukan nama Yesus.
9. Buah-buah doa Yesus
Doa Yesus dapat memulihkan keutuhan manusia. Akibat dosa asal, maka manusia terpecah-belah, kodratnya terluka, sehingga daya-daya jiwa tidak bekerja dengan harmonis, pikiran melayang-layang, perasaan bermacam-macam, susah senang, sakit hati, cinta, dendam, kemauan menjadi lemah, karena pikiran dan perasaan sukar terpusat kepada Allah.
Dalam tradisi Gereja Timur, nama Yesus tidak boleh hanya berhenti di otak, tetapi harus turun ke hati. Jadi pikiran diberi tugas untuk mengulang-ulang nama Yesus dan hati terpusat kepada Allah, maka pribadi kita akan menjadi utuh kembali. Memperbesar daya perhatian dan konsentrasi, ingatan menjadi lebih kuat. Doa Yesus dapat menjadikan kita lebih peka terhadap dorongan Roh Kudus. Kalau hati dan pikiran tenang dan damai, maka suara Tuhan mudah terdengar. Bila orang makin terbuka kepada Roh Kudus, maka buah-buah Roh juga akan nampak dalam kehidupannya sehari-hari antara lain kerendahan hati, kasih, damai sejahtera, sukacita, dll (Gal 5:22). Doa Yesus bila dilakukan dengan tekun dan setia akan menghantar orang kepada kontemplasi yang murni, sebabnya ialah karena roh membiasakan diri untuk mengarahkan perhatiannya kepada satu arah yaitu kehadiran Yesus, akhirnya pelanturan berkurang, dan lama kelamaan hilang. Roh kita akan memasuki tahap keheningan yang mendalam dan orang akan berdoa dalam roh dan kebenaran, mencapai tahap kontemplasi. Keheningan dibutuhkan manusia untuk berkembang secara rohani. Di sini orang dapat mengalami penyembuhan dari kekacauan psikis, kekosongan hidup masa lampau, dibebaskan dari ikatan-ikatan yang tidak teratur dan mengalami cinta kasih Allah yang tak terkatakan. Dalam hidup ini, orang akan dipenuhi oleh kebahagiaan akan kehadiran Allah; mengalami kemanisan kemuliaan surgawi sudah dalam hidup ini. Orang dibebaskan dari segala macam kerisauan, lebih tahan menanggung segala beban dan salib kehidupan. Budinya akan memperoleh terang ilahi yang lebih besar sehingga akan lebih dapat menyelami misteri Allah, baik dalam Kitab Suci maupun karya Allah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Doa Yesus dapat mempengaruhi kehidupan fisik kita. Pernapasan yang teratur akan membantu kesehatan.
10. Keheningan dan kontemplasi
Bila suatu saat orang merasa tertarik untuk diam saja tanpa mengucapkan sesuatu, maka turuti saja dorongan untuk diam itu tanpa menyebut nama Yesus. Asalkan dalam diam itu orang secara samar-samar menyadari bahwa Allah hadir. Dalam hal ini jangan takut untuk diam saja tanpa berbuat sesuatu, janganlah takut untuk menganggur, karena diam seperti itu lebih berharga dari segala aktivitas yang dapat dipikirkan, entah dengan budi, entah dengan ingatan sendiri ataupun dengan kehendak. Justru dalam keheningan inilah Roh Allah tanpa halangan dapat memurnikan serta membebaskan orang dari ikatan-ikatan, serta mencurahkan kebijaksanaan dalam diri seseorang. Tanpa tahu bagaimananya Tuhan menumbuhkan kebajikan-kebajikan dalam diri seseorang. Doa Yesus dapat menghantar orang pada kontemplasi yang murni. Kontemplasi berasal dari kata 'kontemplare' yang berarti memandang Allah dengan sikap sembah sujud penuh hormat / penuh perhatian. Di sini yang dipandang adalah Allah berserta misteri-misteri-Nya. Kita memandang-Nya dengan sikap iman penuh kekaguman. Menyadari kebesaran dan kemuliaan Allah, sehingga orang tidak menemukan kata-kata lagi, satu-satunya sikap yang pantas adalah hanya diam penuh hormat dan kekaguman. Dalam sikap diam ini terkandung sikap penyerahan diri, sembah sujud dan keterbukaan terhadap Allah. Membiarkan diri diperlakukan oleh Allah menurut rencana dan kehendak-Nya.
11. Sikap tubuh dalam doa Yesus
Bisa duduk dengan dingklik / kursi atau bantal doa.
Bisa duduk bersila lotus penuh atau setengah lotus.
Punggung tegak.
Pandangan lurus ke depan.
Tangan diletakkan di pangkuan dengan posisi terbuka atau tertelungkup.
Pejamkan mata.
Bernapas biasa.
12. Petunjuk praktis untuk orang yang memimpin doa Yesus
Pada permulaan bisa diangkat lagu pujian dan penyembahan, satu atau dua lagu riang, satu lagu penyembahan, kemudian doa pembukaan, lalu diberikan tentang teori doa Yesus / penjelasan, setelah selesai penjelasan umat diajak menyanyi satu lagu penyembahan, kemudian diajak untuk menyiapkan hati / membuka hati bagi Tuhan.
Ajaklah umat untuk mengambil posisi duduk yang sesuai untuk doa Yesus.
Ajaklah umat untuk mengambil napas panjang dua / tiga kali supaya menjadi lebih tenang, khususnya kalau baru beralih dari suatu kesibukan tertentu. Dapat juga mengajak umat untuk melakukan penyadaran misalnya: menyadari pernapasan, pakaian yang melekat, udara sejuk yang menyentuh kulit, menangkap suara alam dll. Mengajak umat menyadari bahwa saat ini adalah saat yang indah untuk bertemu Tuhan dalam doa, dalam lubuk hati, mempersembahkan waktu untuk Tuhan secara cuma-cuma.
Ajaklah umat untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam lubuk hati / jiwa.
Ajaklah umat untuk menyerukan Nama Yesus seturut ritme pernapasan. Menyerukan Nama Yesus dengan penuh kerinduan, dengan penuh iman harapan dan kasih.
Biarkan umat memasuki keheningan dalam doa Yesus, pemimpin doa jangan terlalu banyak bicara. Membiarkan umat masuk dalam keheningan.
Bila umat kelihatan gelisah, mungkin sulit konsentrasi, atau melantur, sesekali diajak kernbali lagi untuk menyerukan Nama Yesus dengan penuh kesadaran / kerinduan.
Pada akhir doa jangan begitu saja keluar dari doa, akhirilah dengan suatu ucapan syukur atau
perlahan-lahan mendoakan Bapa Kami. Bisa juga dinyanyikan satu lagu penutup / lagu syukur pada Tuhan.
sumber : “Vacare Deo” edisi Juli / Tahun V / 2003; Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus; Pertapaan Shanti Bhuana
DOA Dalam Bimbingan Roh Kudus
oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.
berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 2568-2589
Tuhan memberikan kepada semua orang karunia doa. Tentu saja, kita harus menerima karunia ini serta mempergunakannya dengan setia. Juga kita harus senantiasa belajar berdoa.
Bagaimana kita dapat senantiasa belajar berdoa? Melalui Roh Kudus.
Roh Kudus: Pengajar Doa
Roh Kudus adalah pengajar doa yang hebat. Pada hari Pentakosta, menurut Kisah Para Rasul, Roh Kudus mengumpulkan para pengikut Yesus yang pertama dalam suatu persekutuan doa. Roh Kudus mengajar mereka untuk senantiasa ingat akan Yesus, mengingat kembali Kitab-Kitab Yahudi, memecahkan roti Ekaristi, mengenali ciptaan baru dalam pembaptisan. “Roh membantu kita dalam kelemahan kita,” demikian kata St. Paulus, “sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa…” (Roma 8:26).
Sekarang Roh Kudus melaksanakan perannya itu di dalam diri kita juga. Roh Kudus adalah “Guru Besar doa Kristiani”, pembimbing serta pelatih kita. Kita belajar berdoa dari ilham Roh Kudus.
Berdoa lewat Perjanjian Lama: para Tokoh dan para Nabi
Salah satu cara Roh Kudus mengajar kita berdoa adalah melalui Perjanjian Lama yang, bersama dengan Perjanjian Baru, merupakan buku doa Roh Kudus. Para tokoh serta para nabi, sejarah bangsa Israel, doa-doa mashyur yang kita sebut Mazmur, mengajar kita berdoa. Yesus Sendiri belajar berdoa lewat Kita-kitab Yahudi dan doa-Nya sendiri mencerminkan tradisi mereka.
Mari kita lihat para tokoh Perjanjian Lama, tokoh-tokoh besar seperti Habel dan Nuh, yang diilhami oleh Roh Kudus. Bagaimana mereka berdoa? Hidup menyatu dengan alam serta dengan makhluk-makhluk hidup di dalamnya, mereka melihat karunia Tuhan dalam kawanan ternak mereka, hasil panen di ladang mereka, langit yang mengirimkan hujan. Bagi mereka, alam semesta ciptaan Tuhan adalah karunia, yang tidak hanya untuk dimanfaatkan, tetapi juga untuk dikagumi keindahannya. Dengan menghargai karya ciptaan, mereka belajar mengenal Tuhan serta memuji Sang Pencipta.
Menghargai Ciptaan Tuhan
Bukankah Nuh menghargai ciptaan Tuhan ketika ia membangun bahteranya? Ia membangun bahtera bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan makhluk-makhluk hidup lainnya yang terancam punah karena air bah. Doa Nuh serupa dengan doa-doa para tokoh lainnya; ia sangat menghargai karya ciptaan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama kita masih dapat mendengar gema doa penyembahan mereka yang bersumber pada puji-pujian karya ciptaan: “Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, segala bintang di langit, api dan panas terik, unggas di udara, segala binatang buas dan ternak di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.” (Daniel 3, 57)
Memanglah benar bahwa kita dapat mengenal Pencipta dari apa yang Ia ciptakan. Jika kita mengamati karya ciptaan Tuhan, dan memeliharanya dengan baik, serta mengagumi keindahannya, kita terdorong untuk berdoa dengan baik. Karya ciptaan Tuhan, begitu beraneka-ragam, begitu memikat dengan warna-warni kemolekannya yang mempesona, akan mengangkat hatimu kepada Sumber segala keindahan.
Menyambut Gembira Kehadiran Tuhan Hari demi Hari
Melalui Abraham, Roh Kudus mengajarkan kepada kita cara lain untuk berdoa. Tuhan meminta Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke suatu tempat yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Hidupnya adalah suatu perjalanan panjang dari hari ke hari. Di segala tempat di mana ia singgah, Abraham membangun altar untuk Tuhan, sebagai pengingat bahwa Tuhan menyertai perjalanannya ke tempat yang belum diketahuinya. Dari hari ke hari ia berdoa dan menyambut gembira apa yang diberikan Tuhan.
Suatu hari, demikian menurut Kitab Suci, Abraham menyambut tiga tamu asing yang datang pada waktu hari panas terik ke kemahnya (Kej 18, 1-16). Dengan menyambut mereka, ia menyambut Tuhan, demikian dikisahkan, dan menerima berkat. Bukankah Roh Kudus mengajarkan kepada kita melalui teladan Abraham bahwa kita harus senantiasa menyambut gembira kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita hari demi hari dengan doa, meskipun kehadiran-Nya tidak selalu nampak jelas?
Doa harian umat beriman kepada Tuhan senantiasa dianjurkan dalam Perjanjian Lama. Dengarlah ayat-ayat mazmur berikut ini:
“Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” (Mzm 145)
“Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku;
Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” (Mzm 138)
Bergulat dengan Tuhan, Berdoa bagi Orang Lain, Berdoa bagi Sesama
Tokoh-tokoh Kitab Suci lainnya memberikan pelajaran-pelajaran lain dalam berdoa. Yakub bergulat dalam gelap dengan seorang asing yang misterius. Doa kita kadang-kadang merupakan suatu pergulatan dengan Tuhan sementara kita bimbang dan ragu (Kej 32, 22-32).
Doa Musa adalah doa perantara. Musa mendaki gunung dan memohon kepada Tuhan bagi umatnya yang menyimpang, yang lapar dan yang patah semangat. Dan Tuhan mendengarkan doa-doanya. Sama seperti Musa, kita harus berdoa dalam semangat kesetiakawanan dengan mereka yang ada di sekitar kita.
“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN…
Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus;
dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.”
(Kel 15: 11,13)
Raja Daud, yang doa-doanya yang termashyur dicatat dalam Kitab Mazmur, memuji serta memohon dengan khusuk kepada Tuhan yang dilihatnya hadir dalam kenisah, dalam Kota Suci, dalam kesejahteraan bangsanya. Sama seperti Daud, kita berdoa kepada Tuhan, yang telah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, dan yang kehadiran-Nya kita rayakan dengan sukacita dalam Gereja-Nya dan dalam masyarakat.
"Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN,
dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.
Aku membaringkan diri, lalu tidur;
aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mzm 3: 4-5)
Resapkanlah doa-doa kesaksian yang sungguh luar biasa itu dan camkanlah apa yang mereka ajarkan. Roh Kudus mengajar kita berdoa melalui mereka. Dengan hidup menurut teladan mereka, kehidupan doa kita sendiri akan tumbuh serta bertambah kuat.
TANDA SALIB
Doa Kristiani dilakukan seturut teladan doa Yesus sendiri. Sama seperti doa-Nya, doa kristiani harus berasal dari hati. Ketika sedang berdoa, Yesus menggunakan kata-kata, tanda dan kadang-kadang seruan, sebagai ungkapan hati-Nya. Demikian juga kita, ketika kita berdoa; kita juga mencari cara untuk mengungkapkan isi hati kita.
Kata-kata dan tanda-tanda yang Yesus gunakan ketika Ia berdoa sering kali berasal dari tradisi Yahudi, yang Ia pelajari dari keluarganya dan dari yang lain. Sementara kita, kita berpegang pada Tradisi Gereja sebagai pedoman dalam berdoa. Kita percaya bahwa Doa Kristiani adalah tradisi yang diilhami oleh Roh Kudus, yang juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari tradisi doa Yahudi yang telah memberi santapan rohani bagi Yesus sendiri.
Tradisi Gereja mengenai doa memiliki kebijaksanaannya sendiri, dengan berbagai ragam bentuk dan ekspresi yang berbeda. Namun demikian, doa-doa dasar dari Tradisi Gereja mendapat tempat istimewa. Tanda Salib adalah salah satu contohnya.
Dalam gereja Katolik dan gereja-gereja Kristen lainnya, Tanda Salib merupakan bagian penting dalam doa pribadi maupun doa bersama. Tanda Salib berasal dari masa Gereja Kristen Perdana dan karenanya keberadaannya sudah berabad-abad lamanya.Tanda Salib adalah tanda pertama yang kita terima yaitu pada saat kita dibaptis dan tanda terakhir yang kita terima yaitu saat kita meninggalkan dunia ini menuju kehidupan abadi. Tanda Salib merupakan bagian yang amat penting dalam doa liturgis dan sakramen-sakramen. Dengan Tanda Salib kita mengawali serta mengakhiri doa kita.
BERKAT DARI ALLAH TRITUNGGALKita menyebutnya berkat. Kita mengatakan kita “memberkati diri kita.” Membubuhkan tanda salib dengan tangan kita di kening, di dada serta di pundak kita, kita memberkati diri kita: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.
Tanda Salib menyatakan berkat. Tanda Salib melambangkan Tuhan memberkati kita, Tuhan melimpahi kita dengan berkat-berkat-Nya. Dan dengan tanda yang sama kita menyatakan kepercayaan kita kepada Tuhan, yang daripada-Nya semua berkat berasal. Dengan Tanda Salib kita memeluk Allah kita yang baik dengan segenap pikiran, hati serta kekuatan kita.
Tuhan memberkati. Kitab Suci Yahudi menggambarkan Tuhan sebagai, di atas segalanya, Dia yang memberkati. Tuhan memberkati Nuh dan menyelamatkan dunia dari air bah. Tuhan memberkati Abraham dan Sara dengan berkat yang lebih banyak dari bintang-bintang di langit. Tuhan memberkati bangsa Yahudi, membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Hidup itu sendiri dan segala ciptaan adalah karunia Tuhan.
Oleh karena itu, tradisi doa Yahudi selalu menyebut Tuhan sebagai Dia yang memberkati. “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu,” demikian kata pemazmur. Sama seperti kita diberkati oleh Tuhan, demikian kita hendak memuji Tuhan.
Tradisi Gereja mengikuti pola yang sama, tetapi sebagai tambahan, doa umat Kristiani memuji Dia yang mengaruniakan kepada kita suatu berkat lain yang tidak ada bandingnya: berkat Yesus Kristus. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Ef 1:3) Ia adalah “Firman yang menjadikan segala sesuatu, Juruselamat yang diutus untuk menebus manusia.” Dalam diri Yesus Kristus, Tuhan datang kepada kita sebagai Sahabat dan Saudara. Bersama dengan Bapa, Ia mengutus Roh Kudus ke atas kita “untuk menggenapkan karya-Nya di bumi dan membawakan kepenuhan rahmat bagi kita.” Dalam diri Yesus, Allah telah menyatakan kepada kita sumber segala berkat.
Saat kita memberkati diri kita dengan Tanda Salib, kita ingat akan Dia yang memberkati kita: Alah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus.
BERKAT SALIB
Dengan tanda Salib kita mengingat kembali secara istimewa hidup, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kita membubuhkan Tanda Salib pada diri kita, Salib Yesus. Wafat-Nya di kayu Salib adalah curahan kasih-Nya kepada kita. Tanda Salib mengingatkan kita akan cinta-Nya, cinta yang tidak hanya ditemukan di masa lampau, tetapi di sini dan di saat ini, sementara kita membubuhkan Tanda Salib di tubuh kita, karena cinta Yesus Kristus kekal abadi selamanya.
Tanda Salib adalah ungkapan sehari-hari yang mengagumkan akan hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan adalah Dia yang memberkati. Tanda Salib mengingatkan kita bahwa setiap hari, di saat suka maupun duka, dalam bahaya dan penderitaan, kasih setia Tuhan serta berkat-berkat-Nya tidak pernah jauh dari kita.
Dengan membubuhkan Tanda Salib di kening, dada dan pundak kita, kita ingat bahwa kita diberkati dalam pikiran, hati dan keberadaan diri kita sepenuhnya. Kita dapat menghadap Tuhan dengan penuh kepercayaan melalui Yesus Kristus yang kasih setia-Nya dinyatakan oleh tanda suci ini. “Datanglah kepadaku,” demikian kata Tuhan lewat Tanda Salib, “jangan takut. Sebelum engkau melakukan apa-apa, Aku telah menyongsong untuk memelukmu dengan limpahan berkat di tangan-Ku.”
sumber : "Praying in words and signs: The Sign of the Cross" by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries;

No comments:
Post a Comment